JEPANG IN
LOVE
Hmmm...
ini adalah ceritaku saat aku dilahirkan. Saat itu aku lahir malam hari tepatnya
hari buku… pada waktu itu ayah dan ibuku sedang ada di toko buku,, lucu bukan ?
aku dilahirkan di toko buku… saat itu juga aku diberi nama Miyako,, seperti
tokoh komik Jepang yang cantik dan baik
hati. Aku dibawa pulang setelah 3 jam setelah lahir.
Ayah
dan Ibuku adalah sepasang suami istri yang sama-sama mencintai buku. Dan aku
hara[ itu akan menular padaku. Satu tahun kemudian aku tumbuh menjadi anak yang
sangat lucu. Kata Ibuku aku adalah gadis kecil tercantik yang pernah dilihatnya
dan dimilikinya. Dari aku mulai berumur satu tahun ayah dan ibuku selalu
mengenalkanku tentang buku setiap harinya, dan mereka juga sangat senang
membacakanku buku sebelum aku tidur. Bukan buku cerita dongeng seperti
Cinderella, Snow White atau semacamnya tetapi aku sering dibacakan komik Jepang
tentang perjuangan dan cinta.
Tahun-tahun
dari aku dilahirkan, berumur satu tahun hingga sekarang terus berjalan. Dan
kini aku sudah berumur 16 tahun,, hem.. cepatnya. Aku sekarang ini sekolah di
High School. Aku punya banyak teman disana dan mereka semua baik-baik semuanya.
“ ha.. Miyako.. kamu sudah datang ya ?? mari
masuk kekelas !!”
“
eh.. iya ayo..!” banyak yang bilang kalo aku sangat polos dan baik. Banyak juga
yang bilang kalo aku mirip tokoh komik di Jepang. Sebenernya aku nggak begitu
mengenal Jepang aku hanya tau sedikit tentangnya dan yang banyak ku tahu dari
Jepang adalah buku-bukunya. Aku bukan lagi anak kelas X tapi sekarang akau
sudah kelas XI dan normal jika banyak teman-teman sebayaku mempunyai pasangan.
“
Miya.. tidakkah kamu ingin seperti kita ?”
“
maksud kalian apa ?”
“
apalagi kalau bukan masalah pasangan ?? kamukan sudah 16 tahun,, apa tidak malu
kalau tidak punya pasangan ?”
“
ah… masalah itu aku belum mau memikirkannya aku masih ingin focus sama
sekolahku.”
“
ya nggak apa-apa tapi,, setiap hari kamu hanya ditemani sama buku-buku di
perpustakaan dan catatan-catatan kecil yang kamu buat,,,”
“
wah.. itu sudah membuat au senang kok… lagian menurutku di umurku yang baru 16
tahun ini belum pantas kalau aku harus bergandengan kesana-kemari.”
“
benar ya emang kalau banyak orang memanggilmu dengan sebutan gadis polos.”
“
haha,, itu bukan masalah..”
“
apa kamu sudah makan ? ayo kita makan !”
“
oh iya… kalian duluan aja nanti aku nyusul!” aku berhenti sejenak dengan
sedikit melamun dan…
“
aku pikir Miyako sedang memikirkan apa yang kita omongkan tadi,, mungkin dia
terpikir akan hal itu.. apa itu salah kita ?”
“
entahlah,, dian kan gadis yang baik tidak mungkin dia akan marah dengan kita..
oh iya lagipula kita sekolah disini harus pandai jaga pembicaraan inikan
sekolah internasional… ngomong gue loe aja nggak boleh harus aku kamu… ya udah
yuk…!”
Rasanya
memang ini sangat mengganjal bagaimana mungkin aku belum punya pasangan. Tapi
perasaan itu kalah akan pemikiranku tentang masa depan yang menentukan
keberhasilanku. Akhirnya aku mengurungkan niatku untuk terus berpikir akan hal
itu. Ketika bel tanda pelajaran usai bordering aku segera mengambil tasku dan
segera pulang. Aku tidak naik mobil maupun motor. Ayah dan ibuku selalu
mengajariku berbagai hal yang berhubungan dengan kebiasaan di Jepang. Iya
kebanyakan siswa di Jepang sekolah dengan menggunakan sepeda.
Aku
mengayun sepedaku kuat-kuat supaya aku cepat sampai di rumah,, belum aku sampai
di rumah sudah ada yang memrlukan bantuan. Bagaimana aku tahu dia memerlukan
bantuan ? yak arena tanganya melambai-lambai padaku. Tentu saja aku langsung
berhenti dan memarkirkan sepedaku yang bukan pada tempatnya.
“
maaf.. bisakah kamu membantuku ?”
“
tentu saja ada apa ? apa yang bisa aku bantu ?”
“
ban mobilku bocor dan aku tidak tahu bengkel yang dekat dengan tempat ini”
“
dan..??”
“
dan aku butuh tumpangan… apa boleh kalau aku menumpang ?”
“
tapi.. kita laki-laki dan perempuan rasanya akan aneh kalau aku yang
memboncengmu.. pastinya kamu nggak bisa sepeda.. kamu kan anak…”
“
anak apa?? “
“
kamu kan… kamu kan… emmm suka naik mobil dan mungkin kamu nggak bisa naik
sepeda benarkan ??”
“
siapa bilang aku nggak bisa kamu salah.. walaupun aku kelihatannya anak yang
aagak sensitive aku bisa kok naik sepeda…”
“
benarkah ? emmm… kalau begitu.. emmm..!”
“
iya.. aku tahu maksudmu,,, tentu saja aku yang akan memboncengmu,, haha benar
emang kalo kamu yang memboncengku akan terlihat sangat aneh… ayo mari !”
“
eh ? iya…”
Dalam
perjalanan itu aku sangat gugup dan takut.. bagaimana tidak ini pertama kalinya
aku bersama anak laki-laki dan dia memboncengku. Aku merasa hal ini sangat
asing. Bagaimanapun ayah dan ibuku selalu mengajarkanku untuk membantu sesama.
Dan itu sedang aku lakukan sekarang, maaf ayah maaf ibu apa kalian akan marah
jika kalian tahu yang akau bantu adalah seorang anak laki-laki ?. di sepanjang
jalan aku hanya diam dan sesekali memejamkan mata.
“
kenapa kamu diam saja ?” tanya anak laki-laki itu padaku.
“
oh,,, tidak aku hanya sedikit mengantuk..!”
“
mengantuk ?”
“
eh ? iya… aku tidak pernah di bonceng sebelumnya pasti aku yang membonceng dan
ini pertama kalinya..!!”
“
ha..ha…ha kamu sangat lucu,, bagaimana bisa ini pertama kalinya kamu di bonceng
?”
“
eh ? iya itu memang benar.. emmm apakah ini masih jauh ? rumahku sudah
terlewati..!”
“
benarkah ? yang mana rumahmu ? maafkan aku ini sudah dekatv!”
“
oh..iya”
“
ini sudah sampai terima kasih ya…!”
“
oh iya… sama-sama itu bukan masalah!” aku segera mengambil alih sepedaku dan
segera mengayunkannya pulang.
“
eh ? hei namamu siapaaaa…?? Gadis yang sangat polos”
Disana
dia berteriak bertanya namaku dan aku tidak mengindahkannya,, aku masih takut
kalau saja ayah dan ibuku akan marah mengenai hal ini dan aku adalah gadis yang
jujur yang tidak pernah bisa berbohong pada orang lain apalagi ayah dan ibuku
sendiri. Tidak berselang lama dari rumah anak laki-laki itu aku segera sampai
dirumahku dan langsung memarkirkan sepedaku di bagasi.
“ ayah,,
ibu aku pulang !”
“ Miya…
kok baru nyampek rumah biasanya jam 1 sudah sampai ?”
“ maaf
bu.. sebenernya tadi Miya, bantu orang bu..!”
“ oh,,,
itu baik… kok dia minta bantuanmu memangnya apa yang kamu bantu ??”
“ emmm,,,
mengantarnya pulang bu…! Emmm,,, bu ?”
“ iya,,,
ada yang ingin kamu katakana ??”
“
sebenernya Miya bantu orang bu,, tapi Miya bantuin anak laki-laki seumuran
dengan Miya bu… apa tidak apa-apa ??”
“
asal kamu membantu dalam hal yang baik itu tidak akan menjadi maslaah Miya..
dan ibu tidak akan marah padamu…!”
“
tapi Miya,, mengantarnya pulang bu,, dan Miya yang di bonceng..!”
“
Miya ingat ya pesan ibu,, kamu itu masih belum cukup umur untuk hal-hal yang
berbau cinta dan ibu akan melarangmu jika kamu melakukan hal itu karena dasar
cinta,,, tetapi asal kamu tidak melakukan hal-hal yang aneh ibu akan
mengizinkannya..”
“
bu,,, banyak temen-temen Miya yang setiap harinya menanyakan pasangan Miya
bu,,, dan itu membuat Miya merasa terganggu bu,, jujur. Miya harus bagaimana ?”
“
ibu akan mengizinkan kamu berteman dengan anak laki-laki Miya asal dia anak
yang baik dan dia mengerti sopan santun,,, baik Miya sekarang ibu akan membuka
sedikit pintu untukmu,,, Miya boleh jalan dengan anak laki-laki asalkan anak laki-laki
itu minta izin dulu dengan ibu atau ayah mengerti,,,,!”
“
iya bu,, Miya mengerti dan Miya tidak akan aneh-aneh kok bu. Lagian Miya juga
tahu kalau ayah dan ibu berjuang Cuma buat Miya…”
“
hmmmmm… gadis pintar,,”
Setelah
apa yang dikatakan ibu akau sedikit lega karena aku tidak akanhanya
berteman-teman dengan anak-anak perempuan saja tetapi anak laki-laki kini akan
menjadi tantangan tersendiri buat aku. Soalnya akan lebih sulit memahami anak
laki-laki dan salah satunya aku juga harus pandai-pandai menjaga diriku.
Sekarang aku punya satu catatan lagi yang akan mengisi buku baruku.
Sebenernya
aku masih berpikir tentang kejadian yang tadi. Kenapa harus aku yang ditemuinya
kenapa bukan orag lain atau mungkin gadis yang lainnya yang mentalnya lebih
kuat dari aku yang mungkin sudah terbiasa dengan anak laki-laki. Tetapi
menurutku ini tidak begitu buruk, karena setidaknya aku sudah mengenal satu
anak laki-laki.
Pagi yang
cerah menyinari hariku saat ini,, aku juga harus pergi kesekolah. Dan
kebiasaanku yang tidak akan pernah aku lupakan yaitu berpamitan dan mencium
tangan ayah dan ibuku. Aku segera mengambil dan menayun teman kecilku menuju
alternative suksesku, sekolah. Di tengah perjalanan ke sekolah akau bertemu
lagi dengananak laki-laki yang waktu itu memboncengku. Bukan karena ikatan
cinta atau semacamnya tapi karena aku membantunya pulang. Di jalan itu aku
melihat anak laki-laki itu dengan pemandangan yang berbeda. Iya,,, berbeda
karena dia tidak lagi naik mobil mewahnya itu sekarang ini dia menaiki sepeda,
sama sepertiku. Dan ketika berpapasan dengannya aku hanya diam saja dan segera
mengalihkan pandanganku berlawanan, aku juga mengayun sepedaku dengan semakin
kencang.
“
hei,,, kamu… gadis polos…!!”
Ha… apa
yang baru saja ku dengar dia memanggilku denga sebutan gadis polos. Apa gelar
itu tidak bisa diganti dengan gadis manis atau semacamnya ?
“
hei… kenapa kamu diam saja aku memanggilmu.. aku belum tahu siapa namamu !”
“
eh ? itu… kamu tidak perlu tahu namaku itu tidak akan berguna,,,”
“
hei,,, kamu sudah membantuku apa salah kalau aku Cuma ingin tahu namamu?”
“
oh,,, itu.. itu tidak salah tapi,,,,”
“
eh,,, aku Fiko..!”
“
iya,, aku menyerah. Namaku Miyako,,, dan banyak yang memanggilku Miya.”
“
wahhhh… nama kamu persis seperti tokoh dalam komik kesukaanku Miyako gadis
cantik yang polos danbaik hati,,,”
“
iya namaku memang diambil dari tokoh dalam komik itu,,,”
“
sepertinya menarik,, aku ingin tahu ceritamu…”
“
eh ? sepertinya kita sudah sampai,,, aku akan segera masuk kelas…”
“
terima kasih ya waktu itu…”
Aku hanya
tersenyum padanya tanpa berkata-kata. Aku segera masuk ke kelas dan mengambil
bangku paling belakang. Banyak teman-temanku yang mengenalku sebagai siswa yang
pandai,, tapi mungkin tu tidak untukku. Alasanku aku mengambil bangku paling
belakang karena aku di tengah-tengah jam pembelajaran suka menulis cerita entah
itu cerita cinta atau yang lainnya. Dan itu alsanyang meyakinkanku kalau aku
bukan anak yang pandai di kelas. Tapi anehnya aku selalu mendapat peringakat
pertama dalam kelas so strength…
Istirahat
pertama dimulai. Seperti biasanya aku memang jarang ke kantin,, aku malah
sering menghabiskan waktuku untuk pergi ke taman dengan buku dan
catatan-catatanku. Di taman aku sudah terbiasa menyendiri, tidak banyak
teman-temanku yang menyukai menulis seperti aku mereka lebih banyakmenghabiskan
waktu untuk bergerombol bersama dan ke kantin. Ketika aku sedang asik menulis
sebuah cerita, aku di kagetkan oleh seorang anak laki-laki yang tadi pagi
berangkat bersama dengan aku.
“ hei..
Yako..!”
“
Yako…???”
“ iya
Yako,, bukankah itu namamu ??”
“ tapi,,,
teman-temanku tidak pernah memanggilku dengan nama itu,,, Yako…”
“
iya,,, kedengarannya memang agak sedikit aneh tapi,,, itu akan membedakanmu
dengan anak-anak yang lain…”
“
maksud kamu,,,??”
“
eh ? aku belum mendengar ceritamu kenapa kamu di beri nama Miyako,,, kenapa
tidak nama yang sudah biasa saja seperti Lisa, Nina, atau yang lainnya ? karena
aku pikir yang mempunyai nama Miyako di sekolah ini hanya kamu saja,,,!”
“
emmm… haruskah akau bercerita padamu,,, tapi,,, akau tidak pernah bercerita
sebelumnya dengan anak laki-laki dan kamu yang pertama…”
“
tentu saja apakah hal yang kamu lakukan dengan anak laki-laki aku yang menjadi
pertama kali ??”
“
iya itu memang benar…”
“
ayo,,,!!! Aku sudah sangat penasaran untuk mendengar ceritamu…”
“
apa kamu pikir ini tidak membuat malu,,?? Bahkan aku baru mengenalmu dan aku
sudah harus menceritakan sejarahku,,,”
“
bukankah itu akan membuat kita semakin akrab ??”
“
akrab ?? emmmmm,,,, aku rasa ini tidak akan baik !!”
“
mengapa ?? kita teman kan ??”
“
teman ? kita teman ??”
“
haaaaaaa……… kenapa dari tadi kamu terus bertanya aku sudah penasaran dengan
asal-usul namamu..!!”
“
baik.. Miyako,,, yah itu namaku. Sejarah nama ini sangat menarik karena diambil
dari salah satu nama tokoh dalam komik Jepang. Ayah dan ibuku sangat menyukai
buku yang berbau Jepang salah satunya adalah komik. Waktu itu malam hari ayah
dan ibuku pergi ke salah satu toko buku dan mereka akan membeli buku tetapi
mereka membaca ringkasan dari buku itu hingga menemukan nama Miyako,, dan pada
saat itu juga aku dilahirkan dan pada saat itu juga tanpa berpikir panjang aku
di beri nama Miyako yang artinya gadis cantik yang baik.”
“
wah… certamu sangat menarik… apakah…”
“
jangan bertanya lagi…”
Akhirnya
bel tanda masuk pun berbunyi ini kesempatanku untuk segera melarikan diri dari
anak laki-laki di sampingku ini. Sejujurnya aku tidak ingin menceritakan hal
ini pada siapapun tetapi hari ini kenapa aku menceritakan itu padanya. Aku
menyesal,, tetapi dia menganggap aku temannya sekarang apa yang harus aku
lakukan ? apakah akau di marah oleh ayah dan ibuku karena hal ini ?
Ketika
jam pelajaran aku tidak lagi konsentrasi, aku terus memikirkan hal itu dan aku
takut. Aku saat ini sedang menunggu untuk berderingnya bel tanda pulang supaya
aku cepat pulang dan beristirahat. Tapi anehnya dalam ketakutanku ini terselip
rasa senang dan lega dalam hatiku. Aku berpikir ternyata rasa senang lebih
sedikit perbandingannya dengan rasa takut dan sekarang ini aku sedang berupaya
untuk menghilangkan rasa takut dalam diriku dan memperbanyak rasa senang.
Akhirnya bel yang aku tunggu-tunggu bordering juga dan itu membuat aku lega.
Aku segera menuju parkiran dan mengambil sepedaku.
“ apa
yang harus aku lakukan ??? kenapa ada dia lagi ??”
“ hei… penulis
Yako kamu juga mau pulang ??”
“ eh ?
iya,,, aku duluan ya !!”
“
penulis Yako.. kenapa kamu tidak menungguku ? kita kan satu arah kan tidak
apa-apa kalau kita pulang bersama.”
“
itu… ya baiklah aku akan menunggumu !”
Dan benar
saja akhirnya aku harus pulang bersama dengan Fiko. Haha terkadang kalau
berpikir tentangnya aneh,, karena mungkin saja dia adalah orang yang
mengagumiku,,, jika seperti itu aku adalah penulis yang sudah terkenal. Di
perjalanan pulang sepedaku berjalan beriring-iringan dengan sepedanya dan tentu
saja orangnya. Aku sesekali melihatnya memandangi langit dan tersenyum
seolah-olah dia baru merasakan kebahagiaan hari itu. Lalu tidak lama
pandangannya berpaling padaku dan aku segera mengalihkan pandanganku.
“ hei…
penulis Yako… apa kamu tadi memandangiku ??”
“ eh ?
tidak… aku tidak memandangimu…”
“ penulis
Yako,,, aku berpikir ini sangatlah indah”
“
emmmm,,, iya ini memang sangat indah”
“ tanpa
kita bersama seperti ini, ini tidak akan lebih indah…”
“ maaf,,,
aku tidak begitu mendengarnya”
“ oh,,,
itu pemandangan disini sangat indah aku tidak menyadarinya,,,”
“
iya tentu saja kamu tidak menyadarinya setiap harikan kamu bepergian dengan
mobil sportmu itu,,, dan mungkin kamu tidak menyadarinya,,, hehehe…”
Aku
sedikit tertawa dengan rambutku yang berkibas terbawa angin yang menyegarkan.
Dan aku tahu Fiko sedang melihatku sambil tersenyum, tetapi aku tidak membalas
pandangannya karena aku takut.
“
emmmm.. apa aku boleh bertanya ??”
“
kamu mau bertanya apa padaku penulis Yako ??”
“
yang itu tadi,,, apa aku boleh tau kenapa kamu memanggilku penulis Yako apa
kamu tidak merasa itu panggilan yag berlebihan ??”
“
oh,,, itu,, iya karena aku… karena aku… suka… karena aku lebih bisa mengenalmu
saat kamu menulis cerita di taman itu,,,”
“
oh,,, apa ada alasan lain ??”
“
ha… alasan lain ???”
“
ah,,, itu lupakan saja. Sepertinya aku sudah sampai,,, sampai jumpa di
sekolah..”
“
hei.. penulis Yako apa kapan-kapan aku bisa main kerumahmu ??”
“
eh ? itu,,, aku akan bertanya pada ayah dan ibuku,,,”
Selanjutnya
aku segera memarkirkan sepeda ku di bagasi dan segera masuk kedalam rumah. Ibu
dan ayahku sudah menyambutku sambil tersenyum dan mereka bertanya padaku
tentang seorang anak laki-laki yang tadi pulang bersama denganku.
“
iya,,, ayah ibu aku sudah tau,,, kita tidak ada apa-apa ibu ayah. Kita hanya
berteman dan tidak akan lebih dari itu aku akan selalu menjaga perasaan kalian
berdua. Dan tentu saja aku tidak akan mengecewakan kalian berdua..”
“
Miya,,, apa dia spesial untukmu,,??”
“
dia spesial untukku sebagai teman ayah, ibu dia sangat baik dan kita melakukan
hubungan hanya sebatas teman biasa saja dan tidak lebih.. aku janji ayah, ibu..
dia teman yang baik dan selalu ceria… aku berteman baik dengannya..!!”
“
iya Miya kami tahu itu.. kami percaya padamu Miya lakukan yang terbaik dan
jangan kecewakan kami,,,!”
“
iya ayah,ibu Miya janji. Tapi apakah salah dan terlalu berlebihan jika dia
memanggilku penulis Yako…??”
“
hahaha… itu sangat lucu Miya.”
Mereka
berdua memelukku itu sebabnya aku tidak akan mengecewakan mereka karena mereka
hanya menyayangiku dan selalu melakukan yang terbaik untukku. Sebaik apapun
hubunganku dengan teman-temanku tidak akan pernah mengahlihkan baiknya
hubunganku dengan ayah dan ibuku. Aku sayang mereka lebih dari itu… aku akan
melakukan yang terbaik untuk mereka,,, aku janji.
Di kamar
aku berpikir betapa baiknya ayah dan ibuku mau mengizinkanku untuk berteman
dengan banyak orang dan aku rasa aku termasuk orang yang beruntung di dunia ini
karena bisa mendapat teman sebaik Fiko, dan apalagi dia adalah seorang anak
laki-laki dan mungkin juga dia adalah anak laki-laki yang di sukai banyak anak
perempuan. Tetapi akau harus mengingat janjiku untuk tidak akan pernah
mengecewakan ayah dan ibuku. Kecuali mereka sendiri yang akan mengizinkanku akan
hal itu. Tidak tersadar dalam hanyutnya aku sehingga aku tertidur sampai malam
tiba, dan aku bahkan tidak mandi. Ponselku bordering tanda ada pesan yang
masuk. Aku segera mengambilnya dan melihat pesan dari siapa,, ternyata Fiko…
Hei.. penulis Yako apakah kamu sudah tidur ?
Aku tidak bisa tidur mala mini sangat indah
banyak bintang yang menghiasai langit malam… sempatkan dirimu keluar kamar dan
melihat bintang…
Aku
tersenyum membaca pesan darinya bahkan dia seperti anak kecil yang tidak pernah
bahagia. Aku masih berpikir akan kubalas atau tidak pesan darinya, dan aku
memutuskan untuk membalasanya,, karena ini hanya hal yag sepele dan tidak
serius jadi apa salahnya kalau aku membalasnya.
Aku akan melihatnya…
Singkat tetapi setidaknya aku
sudah membalas pesannya. Dan aku tidak hanya akan memnuktikannnya melalui pesan
saj atetapi aku benar-benar membuktikannya. Aku keluar dari kamarku dan di
ruang makan aku berpapasan dengan ayah dan ibuku.
“
Miya,,, mau pergi kemana ???”
“
oh,,, ayah,,, aku akan ke halaman depan ayah,,, aku ingin melihat bintang..!!”
“
oh tentu saja pergilah… aku pikir dengan sering melihat bintang dia akan
seperti bintang nantinya..” kata ayah pada ibu.
Aku
segera ke halaman depan dan segera mengatur posisiku di halaman, aku duduk pas
di tengah-tengah halamanku yang luas dan aku memandang langit sesekali
tersenyum. Benar memang kata Fiko malam itu banyak bintang yang menghiasi
langit dan sangat indah. Aku tidak menyadari bahwa banyak malam yang
terlewatkan selama aku disini. Ponselku bordering kembali, dan aku segera
membukanya. Iya aku sudah menduga kalau itu memang pesan dari Fiko lagi.
Apa kamu benar-benar membuktikannya penulis
Yako..???
Lagi-lagi aku tersenyum ketika
membaca pesannya. Menurutku dia sangat lucu, dan kali ini aku tidak membalas
pesannya. Aku memandang lagi keatas dan melihat bintang masih tetap bersinar
tanpa kutahu mereka semua sudah merubah posisinya. Malam itu aku benar-benar
senang aku melihat banyak bintang dan aku melihat senyum ayah dan ibuku. Aku
ingin setiap hari melakukan ini tanpa melewatkannya walau hanya semalam, karena
aku rasa ini sayang untuk di lewatkan. Menurutku ini tontonan yang wajib aku
lihat. Ayah dan ibuku memanggilku menyuruhku untuk segera tidur karena tanpa
kusadari malam ini sudah larut.
“
Miya,, ayo segera masuk kedalam dan tidur,,, besok kamu masih harus sekolah..”
“
iya ibu…”
Aku
bergegas masuk dan langsung kedalam kamarku. Iya aku membaringkan badanku tidak
berniat untuk tidur dulu hanya ingin memikirkan sesuatu sejenak tapi tanpa ku
sengaja aku tertidur sampai pagi menyambutku kembali. Aku segera bersiap-siap
untuk pergi ke sekolah. Riiiiiinnnnngggg………… ponselku berdering.
Penulis Yako aku sudah di dekat rumahmu ayo
berangkat bersama…!!!
mengambil tas danaku segera
turun…
“
ayah,,ibu Miya berangkat…” aku sambil mencium tangan ayah dan ibu.
“
hati-hati Miya…”
“
iya ayah,, ibu.. aku akan pulang tepat waktu..!!!!”
Aku
menuju bagasi dan segera mengambil sepedaku, lalu aku mengayunnya. Tepat aku
keluar gerbang rumahku Fiko datang dan kami berangkat bersama. Seperti biasanya
aku tidak terlalu banyak bicara dan selalu saja Fiko yang memulai pembicaraan.
“ penulis
Yako,, apa kamu tadi malam membuktikannya ??”
“ eh ?
iya,,, aku membuktikannya…”
“ apa
menurutmu aku bohong..??”
“ bohong
? bohong tentang apa ??”
“
kamu selalu saja pura-pura tidak tahu apa yang aku tanyakan,, kamu memang gadis
polos…”
“
eh,,?”
“
tentang bintang..!!!”
“
oh kamu tidak bohong,,, aku membuktikannya dan aku tahu bintangnya sangat
indah.. bahkan aku sampai terlarut di halaman ku..”
“
kamu suka bintang ?”
“
iya aku suka,,, Fiko,,??”
“
iya,,,!”
“
kenapa kamu sekarag bersepeda ?? bagaimana dengan mobilmu ??”
“
mobil..? hahaha… tanpa aku sadari aku tidak pernah tau alasanku untuk
memutuskan bersepeda kemanapun aku pergi..!!”
“
oh,,, iya memang aku menyarankanmu naik sepeda saja itu akan membuatmu
sehat..!!”
“
benarkah kamu memberikan saran itu untukku,,??”
“
eh ?... maksudku mungkin akan lebih baik…!”
“
penulis Yako,,, kamu menganggapku apa ??”
“
ha…?? Emmm kenapa kamu tiba-tiba bertanya itu padaku ?”
“
aku hanya ingin bertanya saja apa itu menjadi masalah untukmu ?”
“
oh tidak. Ya aku menganggapmu teman,,,”
“
apa tidak bisa lebih,,??”
“
oh ? apa..? teman yang baik!”
Akhirnya
aku sampai di sekolah, aku memarkirkan sepedaku di parkiran dan menuju ke kelas
aku tidak menuju kelas bersama Fiko karena kami beda kelas. Sebenarnya aku
mendengar apa yang di tanyakan Fiko di jalan tadi dia bertanya padaku apakah tidak bisa lebih dan aku tahu
maksudnya tapi aku pura-pura tidak mendengarnya karena aku takut akan terjadi
hal-hal yang tidak aku inginkan mungkin misalnya aku terjatuh ketika menjawab
pertanyaanya atau mungkin hal lain yang akan terjadi. Iya aku menganggap Fiko
teman yang baik meskipun mungkin dalam hatiku tidak, tapi di adalah anak
laki-laki yang baru saja aku kenal. Dan untuk hal itu sangat impossible. Sampai di kelas aku sudah di
pandangi teman-temanku dengan wajah penuh pertanyaan itu sudah sangat jelas
kulihat.
“
Miya,, aku beberapa hari ini sering melihatmu bersama Fiko apa kalian pasangan
??”
“
tidak hanya beberapa hari tetapi setiap hari benarkan Miya,,??”
“
emmm… itu,,, kami hanya berteman saja kalian jangan berpikir yang tidak-tidak
kami bukan pasangan kami hanya berteman baik…”
“
tapi,, kalian adalah pasangan serasi yang pernah aku lihat…”
“
itu tidak benar kami tidak ad hubungan yang lebih selain sebagai teman yang
baik…!!”
“
tapi kalian berangkat dan pulang sekolah selalu bersama dan aku selalu melihat
itu..!”
“
eh ? itu karena rumah kami satu arah dan kami kebetulan selalu bersama… maaf
aku harus menyelesaikan buku ku…!”
“
Miya,,, aku juga tahu hal spesial yang lain antara kamu dan Fiko!!”
“
hal spesial ? kami tidak punya itu. Sudah kubilang kami hany aberteman saja…
kenapa kalian tidak mengerti juga ?”
“
penulis Fiko.. itu kan nama
panggilanmu yang diberikan untukmu olehnya ?”
“
itu karena namaku Miyako…”
“
apa Miya tidak curiga dia memberimu panggilan penulis Yako sedangkan kami semua
mengenalmu sebagai Miya,,!! Benar tidak ??”
“
eh ? maaf,, aku harus ke taman…!”
Aku
segera berlari ketaman sebelum di beri pertanyaan yang lebih banyak lagi. Aku
harap di taman aku bisa menemui Fiko. Aku ingin mengatakan sesuatu padanya. Aku
semakin tidak enak,, dan ini membuatku terganggu. Aku melanjutkan tulisanku
yang tidak aku tahu hubungan satu sama lainnya entah nyambung atau tidak.
“
penulis Yako…”
Ketika Fiko memanggilku banyak
teman-teman semuanya yang mengalihkan pandangannya padaku mereka mungkin
berpikir apakah aku seorang penulis?
“
penulis Yako,,, ternyata kamu suka disini ya,,, kalau begitu aku akan menemuimu
setiap hari disini,,”
“
Fiko,,,”
“
iya,,, disini sangat segar…”
“
Fiko,,, apa boleh kalau aku memintamu untuk tidak memanggilku penulis Yako…!!”
“
kenapa ? bukankah itu lucu ?”
“
itu tidak lucu Fiko,,,!”
“
apa kamu merasa terganggu ??”
“
emmmm,,, iya aku merasa terganggu.. !”
“
tapi………”
“
tolong Fiko,, kamu temanku kan ?? aku tidak ingin di spesialkan. Aku ingin kamu
anggap seperti teman-temanmu yang lain..”
“
apa yang membuatmu tidak ingin ku panggil penulis Yako,,,??”
“
Fiko aku bukan seorang penulis aku hanya senang mengutarakan hal-hal yang aku
alami dalam sebuah cerita dan aku tidak bermaksud untuk menjadi penulis…”
“
tapi bagiku kamu adalah penulis yang hebat,, jarang gadis yang sepertimu bahkan
mungkin tidak ada,,,,”
“
Fiko.. banyak teman-temanku yang bertanya padaku apakah kita pasangan ? dan aku
terganggu dengan itu,,, aku sudah menjelaskan pada mereka kalau kita hanya
berteman tetapi mereka tidak pernah bisa mengerti,, tolong Fiko jangan
berlebihan padaku.. mulai sekarang panggil aku Miya atau Miyako…!!”
“
Miyako,, kita selalu bersama-sama berangkat atau pulang sekolah… aku baru
mengenal gadis sebaik dan se polos kamu,,, kamu spesial kamu berbeda. Miya,,,
aku,,,aku men,,yukaimu…!!”
“
eh ?... emmmm Fiko apa aku terlalu berlebihan padamu sehingga kamu mengatakan
ini padaku ??”
“
tidak Miyako aku benar-benar menyukaimu,,, apa kamu mau menjadi kekasihku ??”
“
emmm,,, emmm,,, aku tidak bisa melakukan ini !!”
Aku segera mengambil tasku dan
aku segera pulang…
“
Miyakooooo……”
Tidak…tidak
aku tidak akan mengingkari janjiku pada aya dan ibuku aku akan memegang janjiku
dan saat ini aku hanya ingin focus pada sekolahku aku hanya ingin focus pada
yang menentukan masa depanku nanti. Aku memang mempunyai perasaan yang sama
dengan Fiko tapi hal ini tidak akan aku teruskan danaku tidak akan memberikan
jawaban yang sebagian saja tetapi aku akan menjawab Fiko melalui pesan. Aku
tidak mempunyai cukup keberanianuntuk mengatakan secara langsung jawabanku. Aku
tahu kalau Fiko ada di belakangku dia mengikutiku. Aku mengayun sepedaku
kencang-kencang. Aku tidak menghiraukan rambutku yang berkibas terbawa angin
aku tidak ingin Fiko bisa mengejarku dan memaksaku untuk memberikan jawaban
secara langsung.
“
Miya… Miyako…”
Akhirnya
aku sampai di rumah dan aku menutup gerbang rumahku rapat-rapat lalu
memarkirkan sepedaku di bagasi. Aku masuk kedalam rumah dan ayah ibuku tidak
ada di rumah karena aku pulang lebih awal… aku ke kamar dan menangis…
“
aku tidak akan melakukan hal itu aku tidak akan menerimanya…
tidak…tidak…tidak…”
Ponselku
berdering aku sudah mengira kalau itu pasti pesan dari Fiko. Aku tidak segera
membukanya. Aku masih berpikir apa yang harus aku lakukan. Sudah setengah jam
sejak aku menerima pesan dari Fiko aku masih berpikir, aku harus memberinya
jawaban secara langsung atau melalui pesan. Dan akhirnya aku memutuskan untuk
memberikan jawaban secara langsung, tetapi tidak sekarang. Aku baru membuka
pesan dari Fiko.
Miyako aku minta maaf ini memang kesalahanku
aku tidak bermaksud seperti itu… apa kamu marah padaku,,, bisakah kita bertemu
di tempat waktu kamu membantuku,,??
Saat itu
aku bingung akankah aku membalas pesannya ? aku memang tidak marah padanya
hanya saja aku tidak ingin pertanyaan dan jawaban seperti itu. Aku takut jika
aku menerimanya aku akan menjadi anak yang durhaka aku takut hal yang
kuutamakan untuk ku fokuskan akan terganggu,,, dan aku banyak ketakutan. Aku
membalas pesan Fiko…
Maaf Fiko aku tidak bisa aku ingin sendiri
Aku yakin
jawaban ini akan membuat Fiko sedih. Aku tidak bermaksud untuk membuatnya
sedih. Aku hanya ingin waktu untuk berpikir lebih luas tentang sesuatu yang
terjadi di sekolah tadi.
Hari-hari
terus berlalu dan aku tidak lagi berangkat dan pulang sekolah bersama Fiko
seperti ada jarak diantara kami. Setiap malam aku ke halaman rumahku dan
melihat bintang yang menghiasi langit malam. Aku rasa ini semua bukan kesalahan
Fiko. Fiko hanya menyukaiku karena dia pikir dia baru mengenalgadis polos seperti
aku. Dan aku yang membuat dia mengeluarkan pertanyaan dan jawaban itu. Aku
tidak bisa seperti ini terus aku harus meluruskan ini. Ini terjadi diluar
kehendakku.
Pagi ini
aku akan menunggu Fiko di depan rumahku aku akan berangkat bersamanya.
Sebenarnya aku sangat kesepian beberapa hari ini karena aku sudah terbiasa
bersamanya sejak aku mengenalnya. Aku tidak akan memberikan jawaban iya padanya
aku kan memberikan jawaban sebaliknya karena aku tetap pada prinsipku untuk
tidak mengecewakan ayah dan ibuku. Au melihat Fiko dari kejauhan. Dia terlihat
berbeda.
“
hei.. Miyako..!!!”
“
eh ?... rasanya ini asing!!”
“
asing ? bukankah kamu yang memintanya ?? ini bukan masalah buat aku… ini hanya
sedikit berbeda dari kebiasaanku… oh… lama tidak bertemu…”
“
Fiko… apakah kamu masih marah padaku ??”
“
oh ? marah ?? harusnya itu aku yang bertanya padamu…”
“
eh ? itu aku tidak marah padamu… apa kita bisa berangkat ??”
“
tentu,,,!!”
Iya..
seperti biasanya selalu Fiko yang memulai pembicaraan bahkan aku tidak pernah
memulainya dulu.
“
Miyako… aku… sebenarnya kesepian selama ini.. biasanya kita selalu bersama
berangkat maupun pulang sekolah tetapi beberapa minggu ini kita tidak bersama
dan itu membuatku kesepian,,,!!!”
“
eh ? benarkah ?...”
“
apa kamu tidak merasa kesepian ??”
“
aku… aku… iya aku kesepian…”
“
tentang itu maafkan aku ya,,,!!!”
“
emmmm… iya kamu tidak salah!!! Aku yang membuat kamu mengeluarkan pertanyaan
dan jawaban itu jadi itu kesalahanku…”
“
tidak,,, aku merasa bersalah padamu.. sejak kamu membalas pesanku yang terakhir
itu aku berpikir kalau akau sudah berlebihan terhadapmu… maafkan aku ya…!!!”
“
iya,,, Fiko tentang itu aku tidak akan menggantungkan perasaanmu karena itu
bukan type ku.. aku belum bisa menjadi seperti yang kamu harapkan.. aku masih
harus sekolah. Oh,,, tidak bukan hanya aku tapi kamu juga masih harus sekolah…
kita kejar saja apa yang kita mau saat ini agar nanti masa depan kita bisa
cerah,,,”
“
itulah yang aku suka darimu Miyako,,, kamu memang gadis terbaik yang pernah aku
temui… apa yang kamu katakan tidak akan merubah perasaanku terhadapmu aku tetap Fiko yang menyukaimu dan walaupun
kamu tidak menerima perasaanku. Aku akan tetap berjuang sampai saatnya nanti
kita akan bersama. Aku tahu apa yang kamu inginkan saat ini dan aku sangat
menhargai itu bahkan akau akan mendukungmu,,, sekarang yang perlu kita lakukan
hanyalah berteman baik… bukankah begitu ?”
“
iya,,, aku tahu itu…”
“
Miyako aku ingin bermain ke rumahmu,,, aku akan minta izin pada ayah dan
ibumu,,,”
“
Fiko,,, itu…”
“
itu bukan masalahkan Miyako ??”
“
emmmm,,, tidak !”
“
bukankah kita sudah sampai,,,??”
“
eh? Iya…”
Sejak itu
aku sudah terlihat bersama kembali dengan Fiko,, bukan bersama sebagai sepasang
kekasih tetapi bersama sebagai teman yang baik. Aku menjadi lebih semangat
untuk sekolah dan menggapai apa yang akau inginkan. Sore ini aku akan bertanya
pada ayah dan ibu apakah mereka akan mengizinkan kalau Fiko datang kerumah kita
(aku harap mengizinkan).
“
Miya… hari ini kamu sangat berbeda ada apa denganmu ?? beberapa hari yang lalu
kamu terlihat sayu dan tidak bersemangat tetapi sekarang malah sebaliknya,,,!!”
“
oh,,, beberapa hari yang lalu aku agak tidak enak badan,,,”
“
bagaimana mungkin kamu bisa tidak enak badan selama itu ?? aneh !!”
Setelah
bel istirahat berdering aku segera menuju ke taman dan melanjutkan tulisanku
yang tidak pernah aku tahu kapan selesainya. Aku terus menulis dan menulis
sampai buku catatan baruku hampir habis. Aku tahu Fiko akan menemuiku hari ini
di taman seperti biasanya.
“
Miyako…”
“ eh ?...
iya”
“
Miyako,,, apakah tulisanmu belum selesai juga ??”
“
ah,,, belum aku masih harus giat berlatih supaya ceritaku cepat selesai,,, eh ?
kamu sekarang aku izinkan untuk memanggilku penulis Yako lagi karena aku rasa
panggilan itu lucu dan hebat..”
“
apakah kamu tidak terganggu..??”
“
sebenarnya tidak itu hanya emmm,, alasanku saja”
“
apakah kamu akan memberikan buku pertamamu untuk aku baca nanti ??”
“
emmm,,, aku belum memutuskannya…!”
“
jika kamu akan main kerumahku apa yang akan kamu bicarakan ??”
“
kenapa kamu bertanya seperti itu ?? aku selalu mempunyai topic yang asik
dibicarakan jangan kuatir…”
(Fiko
kamu memang sangat mengasikkan. Aku memang beruntung bisa mengenalmu dan aku
juga belum pernah mempunyai teman sebaik kamu)
“
Penulis,,, Yako kenapa kamu melamun ??”
“
tidak aku hanya,,, sedikit pusing…”
‘
itu bukan masalah kan ?”
“
tentu saja bukan itu sudah biasa…”
Tiga jam
kemudian bel tanda pelajaran usai pun berdering. Aku mengambil tas dan segera
keparkiran untuk mengambil sepedaku. Di parkiran aku tidak melihat Fiko dan
tentu saja sepedanya sudah tidak ada. Kenapa dia tidak menungguku ? biasanya
dia selalu menunggu. Aku pulang sendiri dan mengayun sepedaku agak cepat. 15
menit kemudian aku sampai di rumahku dan kebiasaanku seperti hari-hari lain pun
berlaku.
“
aku pulang…”
Aku sudah melihat Fiko di
rumahku. Dan tentu saja aku bertanya-tanya dia belum mendapat izin oleh ayah
dan ibu, bahkan aku belum bertanya pada mereka tetapi dia sudah ada di sini di
rumahku.
“
Fiko apa yang kamu lakukan disini ?? ayah,,, ibu…?”
“
ah,, penulis Yako…”
“
dia sangat lucu Miya,,, banyak hal yang ayah dan ibu bicarakan dengannya..”
“
tapi Miya belum meminta izin pada ibu dan ayah,,,”
“
Miya duduk… kemarin Fiko meminta izin sendiri pada ayah dan ibu untuk bermain
disini dan kami mengizinkannya dia anak yang sangat baik…”
“
Fiko kenapa kamu tidak bilang kalau kamu sudah minta izin ??”
“
eh ? penulis Yako jangan marah akau hanya ingin memberikan kejutan untukmu,,,”
“
oh,,, ayah ibu Miya ke kamar sebentar ya,,,”
Aku
kekamar dan berganti pakaian,,,. Aku berpikir aku 2 minggu lagi akan kelas XII
apakah aku sudah mendapat izin dari ayah dan ibu jika aku ingin mempunyai
pasangan ?? tapi aku tidak akan mengutarakan pertanyaan bodoh itu. Aku tahu
pasti jawaban ayah dan ibu adalah ketika aku sudah di perguruan tinggi aku baru
boleh mempunyai pasangan. Dari dalam kamar aku mendengar Fiko berpamitan. Aku
segera keluar kamar.
“
hah… Fiko ???”
“
penulis Yako aku akan pulang. Sampai bertemu besok.”
“
hati-hati Fiko”
“
iya bapak ibu,,, mari !!”
“
hah…? Bahkan aku belum berbicara padanya”
“
apa kamu menyukainya ??”
“
eh ? itu tidak benar ayah ibu… Miya akan masuk ke kamar lagi “
Hari ini
sangat aneh pertanyaan ibu sangatlah aneh. Bagaimana bisa ibu bertanya seperti
itu padaku sedangkan ibukan melarangku melakukan hal itu. Meskipun begitu itu
bukanlah sesuatu yang bisa aku jadikan alasan untuk mempunyai perasaan yang
sama dengan Fiko. Aku rasa apa yang aku pikirkan saat ini gila,,, oh
tidak…tidak…tidak… sebenarnya aku masih berumur 16 tahun walaupun aku sebentar
lagi 17 tahun. Hm… iya mengingat umurku aku jadi teringat hari ulang tahunku
yang akan tiba 1 bulan lagi. Aku tidak ingin hal yang mewah ataupun perayaan
pesta, aku hanya ingin di hari sweet 17 ku akau bisa melihat orang-orang yang
aku cintai berkumpul bersamaku. Hanya melamun seperti ini tidak ku sangka aku
telah menghabiskan waktu 1 setengah jam dan itu hanya untuk melamun…???
Haisssss…
hari yang sore cerah seperti ini aku merasa ingin keluar rumah. Aku ingin
menghirup udara segar dan berjalan-jalan. Aku Miyako seorang gadis yang banyak
orang mengenalku sebagai gadis cantik yang polos. Sebenarnya aku adalah anak
yang tidak terlalu suka kemewahan yang berlebihan, aku lebih suka hal yang
sederhana. Karena aku pikir hal yang mewah belum tentu bisa menjamin
keberhasilanku, dan sebaliknya hal yang sederhana belum tentu juga akan
menjamin kegagalan. Iya memang tidak ada salahnya jika keduanya dicoba selagi
kita mampu tapi mungkin itu sangat tidak berlaku untukku, menurutku sederhana
adalah hal yang sangat mewah. Aneh memang kedengarannya banyak gadis yang
menyukai kemewahan dan aku lebih memilih kesederhanaan.
Tadinya
aku mengatakan kalau aku ingin keluar berjalan-jalan meghirup segarnya udara
sore hari, tapi haha… sepertinya hal itu kalah dengan lamunanku yang semakin
menjadi. Oh,,, iya kenapa aku hanya melamunkan hal yang seharusnya akan lebih
baik jjika aku tulis. Aku tidak tahu nantinya aku akan menjadi Miyako yang
seperti apa,,, sekarang ini aku hanya mengumpulkan catatan-catatan kecil yang
tidak jelas arahnya. Sebenarnya aku pernah membaca sebuah artikel tentang
langkah awal menjadi seorang penulis adalah tulis apapun yang kalian pikirkan
tidak masalah itu baik ataupun jelek tuangkan saja apa yang ingin kalian
tulis,, dan sekarang aku melakukannya. Yah… sejujurnya aku sekarang sedang
berpikir akan sampai kapan aku melamun terus dan tidak melakukan hal apapun.
Aku rasa
aku harus berbicara dengan ayah dan ibuku mengenai suatu hal yang sebenarnya
tidak terlalu penting. Tapi kau akan membicarakannya nanti. Aku akan berpindah
topic, aku rasa selama aku mengenal Fiko aku menjadi gadis yang lebih hidup.
Hariku semakin berwarna, itu karena Fiko adalah anak laki-laki yang sangat
ceria, dan aku rasa dia tidak pernah mempunyai riwayat kemarahan, itu karena di
wajahnya hanya ada senyuman dan candaan. Sejujurnya di adalah anak laki-laki
yang mengasikkan, ya sekarang aku akui itu. Sebagai teman yang baik aku tidak
akan mendeskripsikan kebiasaan buruknya, karena tepatnya aku tidak tahu. Hampir
tidak pernah dia memperlihatkan hal yang jelek mengenai dirinya sendiri. Aku
beruntung bisa mengenalnya.
Apakah
Fiko hanya akan berteman denganku ?? apakah dia tidak mempunyai teman yang
lebih baik dariku. Akankah aku hanya menjadi teman sampingan saja ?? semakin
banyak waktu yang kuhabiskan semakin banyak hal-hal yang aneh masuk kedalam
pikiranku. Tidak kusangka hari sudah hampir malam, sekarang saja sudah pukul
6.28 dan itu sudah sangat lama, dan bahkan aku belum mandi. Aku takut jika belum mempunyai pasangan saja aku sudah
agak lupa mandi apalagi kalau aku sudah mempunyai pasangan. Tapi itu mungkin
tidak akan berlaku untuk gadis lain, iya pahami saja aku memang belum terlalu
mengenal banyak anak laki-laki kecuali ayah dan Fiko mereka sangat sensitive.
Sekarang aku akan mandi. Aku jadi teringat yang dikatakan Fiko saat dia akan
pulang tadi, sampai ketemu besok ? bukankah
besok hari libur ???
Malam ini
malam libur, tidak banyak hal yang bisa aku lakukan selain ke halamanku dan aku
akan melihat indahnya bintang yang menghiasi malam ini. Aku harap hari ini
tidak akan mendung. Apakah gadis lain juga akan melakukan hal yang sama
denganku hanya ke halaman rumah danmelihat bintang saja ?? bukankah harusnya
mereka pergi bersama pasangannya masing-masing ?? aku pikir Yuki juga akan
melakukan itu. (Yuki adalah teman perempuan Miyako). Jika aku mengirim pesan
pada Yuki aku rasa itu hanya akan mengganggunya. Oh Yuki bisakah kau menjadi
teman yang lebih baik untukku ??? Yuki aku tidak… aku tidak… ponselku berdering
mungkin itu Yuki yang akan mengajakku berjalan-jalan, dengan hati yang sudah
senang aku membukanya dan,,,,,
Penulis Yako ayo lihat bintang di halaman
masing-masing…!!
Apa ???
bahkan anak kecil ini lebih seperti balita,,, oh tidak bukan itu yang aku
harapkan. Bisakah kamu lebih seperti teman yang dewasa, dengan seperti balita
itu hanya akan membuatku seperti orang tua… akhirnya dengan penuh keterpaksaan
aku membalas pesannya
Aku akan melihatnya,,, apa bintang di
halamanmu sudah kamu sirami ??
Aku juga membalaas pesannya
dengan bahasa balita,, yang mungkin dia akan lebih mengerti…
Apa ?? aku selalu menjaganya supaya mereka
tetap hidup walau tidak pernah aku siram,,, seperti…
Apa yang terjadi dengannya ?? apa
dia sudah gila ? dia membalas pesannku masih saja seperti anak balita berumur 3
tahun,,,
Apa kamu tidak pernah tahu maksudku ? apa
kamu seorang balita berumur 3 tahun ?? iya sekarang aku punya teman seorang
balita berumur 3 tahun yang bahkan tidak lucu sama sekali…
Aku membalas pesannya dan ingin
membuatnya sadar tapi aku memang sudah menduganya kalau dia akan membalasnya
dengan kata-kata balita lagi,, dan… ponselku berdering kembali,,,
Benarkah,,?
Kali ini aku tidak akan membalas pesannya.
Hmm… aku sudah merasa mengantuk. Rasanya aku ingin tidur setelah seharian aku
melakukan hal yang kurang berguna (melamun). Aku harap aku besok masih bisa
menemui pagi yang cerah,,,, selamat malam !!!.
Kerennnn…
ini adalah pagi paling cerah yang pernah aku temui. Walau hari ini aku tidak
sekolah aku akan membawa temanku (sepeda) berjalan-jalan sekitar taman dekat
rumahku. Hari ini pastai ramai dan ini akan lebih baik. Iya sebelumnya aku akan
sarapan terlebih dahulu dengan ayah danibuku karena mereka juga akan pergi
bersamaku. Mereka sangat romantic, aku sangat beruntung memiliki mereka. Mereka
adalah ayah danibu yang tidak pernah sedih. Hidup mereka di penuhi dengan rasa
senang dan bahagia. Hmmmm,,,, daripada begini aku lebih baik sarapan dan berjalan-jalan.
Emmmm…
tidak terasa hari-hari dari waktu hari libur sampai dengan hari sekarang ini
semua berjalan dengan baik. Aku selalu berangkat dan pulang sekolah dengan
teman baikku Fiko. Kita memang lebih terlihat seperti pasangan tapi itu mungkin
tidak akan pernah terjadi selama kita masih belajar dan mengejar mimpi kita.
Aku senang bisa melakukan itu, aku rasa jika hari itu (hari ketika Miyako
membantu Fiko) tidak terjadi aku tidak akan mengenal anak laki-laki yang sering
kusebut balita itu (Fiko). Hahaha… cerita ini membuatku sedikit tersenyum, ini
terlihat lucu. Iya… tepat hari ini aku akan memasuki tahun ke-3 di High School.
Yang pertama akan aku lakukan adalah melihat papan pengumuman, aku akan di
tempatkan dimana dan satu kelas dengan siapa. Sepertinya perkiraanku aku akan
berpisah dengan Yuki,, huh.. apa yang harus aku lakukan ???. aku memang tidak
mengayun sepedaku terlalu kencang namun kenyataannya sekarang aku sudah sampai
di sekolahku dan tanpa berpikir apa yang harus kulakukan aku langsung menuju ke
papan pengumuman. Tidak heran disana sudah di penuhi oleh para siswa yang
penasaran dengan kelasnya masing-masing, dalam hal ini tidak ada bedanya
denganku.
“
Miyako,,,Miya… hah ?? benarkah ini namaku ?? benar perkiraanku aku memang
berpisah dengan Yuki,, oh siapa nantinya teman satu bangku ku ?? dia sudah
begitu akrab denganku…”
“
Miya…!!! Bagaimana apa kamu masih satu kelas denganku,,,??”
“
Yuki bagaimana apa yang harus kita lakukan ?? kita akan berpisah…!!”
“
ah… Miya itu tidak masalah kita tetap bisa bertemu,,,,”
“
Yuki…”
“
eh ? Miya… kamu satu kelas dengan Fiko,,,? Bukankah itu akan mengasikkan ??”
“
hah…? Benarkah ? aku tidak melihatnya… Yuki… sepertinya ada siswa baru,,, siapa
dia ?? apa dia satu kelas denganku ?”
“
iya aku rasa itu benar,,, selamat Miya kamu akan satu kelas dengan siswa
baru,,, kamu akan mempunyai teman baru lagi…”
“
Yuki,, apa itu tidak akan masalah ??”
“
tidak masalah…”
Saat itu
aku melihat Fiko juga tetapi dia tidak melihatku,,, sebenarnya aku lebih senang
jika kita tidak satu kelas karena aku akan tahu bagaimana sifatnya yang
sebenarnya kalau aku satu kelas dengannya,, apakah dia akan seperti biasanya
saja apa dia akan berbeda ?? aku menghampirinya.
“
Fiko… kamu…”
“
iya aku sudah tahu,, bukankah itu akan lebih baik ??”
“
eh ? iya,,, emm… Fiko sepertinya akan ada siswa baru dalam kelas kita…”
“
siswa baru ?? benarkah itu ??”
“
oh… aku sudah melihatnya namanya Yumi…”
“
apa dia seorang anak laki-laki ??”
“
aku rasa bukan dia mungkin seorang anak perempuan yang cantik.. hehehe…”
“
itu akan lebih baik…”
“
he ?”
“
mari kita ke kelas…!!!”
“
oh,, iya baiklah…”
Aku
memang agak gugup, bagaimana tidak ini bar pertama kalinya aku berpisah dengan
Yuki sejak aku kelas X dan sekarang aku satu kelas dengan Fiko. Aku bukan orang
asing lagi karena aku sudah 2 tahun di sekoalh ini, tapi… ini rasanya aneh…
huh,, hari yang menakutkan,, aku akan satu bangku dengansiapa hari ini ??
bagaimana kalau akau tidak mempunyai teman satu bangku,, aku akan lebih seperti
orang asing lagi… ditambah lagi dengan siswa baru yang akan satu kelas
denganku.. biskah aku beradaptasi lagi ??
Sekarang
aku sudah ada di depan kelas baruku. Aku melangkahkan kaki kananku perlahan
diikuti kaki kiriku dengan sedikit gemetar. Iya benar saja sudah banyak siswa
yang ada dalam kelasku dan mereka terlihat berbeda. Huh.. gugupnya aku !!!
sepertinya ada yang melambaikan tangan padaku,, siapa lagi kalau bukan Fiko ?
sepertinya hanya Fiko yang akau kenal. Aku segera menghampirinya dan sepertinya
dia sudah duduk dengan siswa lain. Tidak ada pilihan lain aku memang harus
mencari tempat duduk yang lain. Rasanya ini tidak begitu menyenangkan bagaimana
tidak, aku belum tahu apakah siswa di kelas ini akan baik-baik atau malah
sebaliknya dan aku belum tahu juga mereka mau berteman denganku atau tidak. Aku
duduk tepat di belakang Fiko. Sebenarnya aku sangat penasaran dengan siswa baru
yang bernama Yumi itu. Apakah di anak yang baik ? terlihat dari namanya mungkin
aku akan mengatakan bahwa dia adalah gadis yang cantik dan baik hati.
Sudah
sekitar setengah jam aku hanya duduk dan tidak berbincang dengan siapapun. Aku
hanya sesekali melihat ke sekitar kelas yang ramai. Ketika aku menoleh kearah
pintu kelas aku melihat seseorang dengan rambut yang panjang dan dengan postur
tubuh idaman setiap wanita. Apakah itu yang bernama Yumi apakah dia orangnya ?
aku tidak menyapanya atau melakukan hal lain aku hanya menunggunya masuk ke
dalam kelas. Ketika dia masuk ke dalam kelas dia langsung mengambil tempat
duduk tepat disamping Fiko, dan aku langsung menegurnya.
“ maaf..
bukankah itu sudah ada yang menempati ??”
“ apa ??
iya itu aku orangnya “
“ oh…”
Ternyata dia tidak seperti yang
aku pikirkan. Iya memang dia cantik tetapi gayanya sangat tidak menyenangkan
hati. Dia sudah terlihat akrab dengan Fiko, terlihat dari mereka yang dari
sejak gadis itu duduk di sampingnya hingga sekarang masih terus
berbincang-bincang. Entah apa yang dibicarakan seolah mereka berdua telah
terhanyut dalam forum itu. Tidak lama ada seorang anak perempuan yang
mendatangiku dan menyapaku.
“
hei..! siapa namamu ??”
“
eh ?? aku… Miyako bisa di panggil Miya atau Miyako !!”
“
oh… aku Yoona..!!”
“
em.. senang berkenalan denganmu Yoona..!”
“
bisakah aku duduk di sampingmu ??”
“
oh iya tentu saja kenapa tidak,,,”
“
aku kan mengambil tas “
Akhirnya aku agak sedikit lega
karena ada yang mulai mengenalku. Aku masih terus memandangi Fiko dan Yumi. Aku
penasaran apa yang sedang mereka bicarakan,, apakh hal penting atau mungkin
hanya tentang mainan anak ?? aku memang tidak ingin hal ini terjadi. Apakah jika
Fiko tetap bersama Yumi dia akan melupakanku ?? apakah dia tidak akan menjadi
teman baikku lagi ?? oh aku memang selalu berpikiran negative. Sebenarnya ini
tidak lama hanya pembagian kelas saja dan aku memilih pulang. Di parkiran aku
melihat Fiko, dia menyapaku dan melambaikan tangannya.
“
hei…!! Penulis Yako… ayo kita pulang bersama !!!”
“
oh ? iya “
Kami pulang bersama di perjalanan
seperti biasanya memang aku tidak pernah banyak bicara. Aku hanya sekedar
melihat-lihat pemandangan sekitar jalan raya dan sesekali memandangi langit
biru yang agak mendung. Tidak seperti biasanya Fiko juga hanya diam saja hari
ini dan aku tidak menanyakan apapun. Iya… sepanjang jalan kami hanya berdiam
dan tidak ada yang menyahut satu sama lain. Aku memang sudah terbiasa diam
tetapi Fiko tidak, hanya hari ini saja dia diam. Hingga aku sampai dirumah dan baru aku
mengatakan sesuatu.
“
oh,,, aku sudah sampai. Sampai bertemu besok !!”
“
iya…”
Hari ini
memang sangat membosankan. Bagaimana bisa aku hanya mengenal satu anak saja. Dan
yang paling membosankan adalah karena aku tidak mengatakan atau membincangkan
sesuatu apapun dengan Fiko. Yang biasanya dia selalu membuatku tersenyum. Oh…
hari ini memang hari yang sangat membosankan…membosankan…dan membosankan…
apakah ini akn terulang kembali besok ?? aku harap tidak. Apakah malam ini Fiko
akan mengirim pesan untukku ?? apakah dia akanmengirim pesan untuk melihat
bintang bersama ? ah… kenapa aku ini aku bahkan hanya teman baiknya saja dan
tidak lebih. Jika diantara aku dan Fiko lebih dari teman mungkin aku akan
menyesalinya karenan tentu saja hal itu akan membuat ayah dan ibuku kecewa
padaku. Apa yang harus aku lakukan ??
2 minggu
lagi aku akan berulang tahun dan itu tepatnya aku sudah berumur 17 tahun.
Rasanya menakjubkan banget aku ulang tahun pada hari buku dan sejarah namaku
akan muncul kembali. Oh iya,,, sejenak aku akan melupakan tentang Fiko dan
Yumi. Apa yang dilakukan mereka bukanlah menjadi urusanku, aku hanya berteman
baik dengan Fiko hanya teman. Aku akan meneruskan tulisanku, kali ini aku akan
focus pada tulisanku. Impianku untuk menjadi penulis harus bisa tercapai.
Sebenarnya aku sudah memikirkan untuk kemana setelah aku lulus nanti. Aku nanti
ingin masuk ke dalam perguruan tinggi dan mengambil sastra. Meskipun kebanyakan
orang mengatakan kalau belajar di sastra sangat sulit, itu tidak akn berarti
untukku.
Ayah dan
ibuku tidak ingin aku masuk perguruan tinggi di sini. Kata mereka aku akan
dikirim ke luar negeri, berat memang rasanya karena aku harus meninggalkan ayah
dan ibuku disini. Tapi aku masih harus berfikir jika aku masuk di perguruan
tinggi karena beasiswa, aku akan melakukannya. Tetapi jika aku masuk dan masih
dibiayai oleh ayah dan ibuku aku tidak akan melakukannya. Itu karena ayah dan
ibuku masih harus mengeluarkan banyak biaya untukku dan aku tidak menginginkan
hal itu, mungkin jika buku yang aku tulis akan menjadi sebuah karangan dan
diterbitkan, itu akan sedikit membantu. Hmmm… memikirkan masa yang akan datang
memang tidak pernah ada habisnya,,, tapi itu indah. Rasanya jika aku
bersungguh-sungguh kesuksesan itu sudah di depan mataku. Dalam bayanganku ini
aku mendengar ada suara yang memanggilku.
“
Miyako… bisakah kamu membantu ibu ??”
“
oh.? Iya bu,,,”
“
Miya… tolong kamu pergi ke minimarket dan belikan ibu coklat..!!”
“
eh.. iya bu !! ibu kan memasak apa hari ini ??”
“
ibu akan memasakkan yang spesial untuk kamu,,,”
“
baik bu…”
Aku
langsung mengambil sepedaku dan segera berangkat. Di jalan aku melihat-lihat
sekitar dan menghirup udara segar. Dengan seperti ini seperti tidak ada beban
dalam hidupku. Memang Tuhan adil, menciptakan semua ini untuk di nikmati dan di
manfaatkan manusia. Rasanya ini tidak akan habis dan akan terus ada. Tidak
sengaja aku menoleh ke arah kanan dan aku melihat Fiko sedang bersama Yumi di sebuah
taman. Mereka seperti membicarakan sesuatu yang menyenangkan dan mereka
tersenyum. Tidak aku sadari aku juga ikut tersenyum,,, apakah mereka sudah
pernah kenal sebelumnya ?? aku rasa ini aneh untuk seorang murid baru yang baru
di kenalnya beberapa jam dan sekarang mereka sudah bersama. Ah… akhirnya aku
sampai juga di minimarket. Aku masuk kedalam dan mengambil apa yang ingin ku
beli. Aku menyodorkan coklat kearah kasir.
“ Rp
20.000 “
“ oh..
ini “
“ terima
kasih ! silahkan datang kembali..!”
Aku
pulang dan tepat di tempat aku melihat Fiko dan Yumi bersama aku melihatnya
kembali dan mereka masih tetap disana. Haha… aku memang sedikit penasaran
dengan apa yang mereka berdua bicarakan. Tapi itu akan tidak sopan jika aku
menanyakannya. Saat aku melihat mereka berdua, Fiko juga melihatku. Langsung
saja aku mengalihkan pandanganku. Trdengar dia melambaikan tangan padaku sambil
memanggilku.
“ penulis
Yako…!!”
“ eh ?
hai…”
Aku menjawabnya dan segera
mengayun sepedaku kencang-kencang. Aku malu kenapa aku harus memperhatikan
mereka berdua. Aku tidak ingin salah satu dari mereka berfikir kalau aku
menyukai Fiko.
“ aku
pulang…!!”
“ Miya,,
mana coklatnya ??”
“ ini
bu,,,!”
“ apa
boleh Miya membantu bu ??”
“ tentu
saja.. ibu ? apa Miya boleh bertanya ??”
“ apa
yang ingin kamu tanyakan ?”
“
emm… ada teman Miya bu, yang mempunyai teman anak laki-laki, dan ada siswa baru
perempuan, dan anak laki-laki itu jalan dengan siswa baru itu bu,, apakah teman
Miya akan dilupakan bu ??”
“
itukan masalah teman kamu kenapa kamu yang menanyakan pada ibu ??”
“
Miya hanya ingin tahu bu,,,!!”
“
mungkin bisa iya… dan mungkin bisa tidak…”
“
bagaimana jika iya bu ?”
“
jika iya,,, ya bagaimana teman kamu harus mencari teman yang lain yang lebih
baik dari anak laki-laki itu…”
“
oh… bagaimana dengan coklatnya ?”
“
kamu ambil tevlon itu dan cairkan coklatnya !!”
Satu jam
aku membantu ibu memasak dan saat itu hari sudah sangat sore. Aku segera masuk
kedalam kamar dan mandi. Setelah aku selesai mandi aku mengambil ponselku.
Bermaksud untuk mengirim pesan untuk Fiko tapi, aku mengurungkan niatku dan aku
menaruhnya di meja belajarku. Tidak lama ponselku berdering tanda panggilan
masuk. Namun aku tidak mengangkatnya karena itu Fiko. Aku takut kalau dia
menanyakan sesuatu tentang dirinya dan Yumi. Beberapa kali dia menelponku dan
aku tidak mengangkatnya. Sekarang berganti, ponselku berdering kemballi tanda
ada pesan yang masuk.
Penulis Yako,,, tadi kamu dari mana ??
Aku dari minimarket..
Apa yang kamu beli ?
Coklat..
Apa tadi kamu melihatku bersama Yumi ?
Oh ? iya… aku melihatnya..
Dia anak yang sangat mengasikkan..
Benarkah ?
Iya… apa nanti malam kamu akan melihat
bintang ??
Aku rasa ini mendung jadi aku tidak akan
melihatnya..
Benarkah ? bahkan langit di sini sangat
cerah… bagaimana bisa di sana mendung..??
Aku tidak tahu…
Besok kita berangkat bersama ya,,,?
Iya.
Apa benar
kalau langitnya mendung ?? aku melihatnya dari jendela kamarku,, dan langitnya
sangat cerah. Ah… perasaan apa tadi yang membalas pesan Fiko ?? akankah aku
cemburu. Tapi aku melihat mereka berdua di taman sore tadi tidak merasa apa-apa
bahkan aku ikut tersenyum melihat mereka berdua. Sekarang ini aku sedang tidak
ingin melihat bintang. Oh.. ternyata Fiko masih seperti biasanya padaku dia
tidak berubah. Apa itu yang dinamakan teman yang baik ?? tidakkkk…………… aku
ingin beristirahat aku ingin tidur.
Hmm… pagi
yang sangat cerah… seandainya suasana hatiku seperti cerahnya pagi ini pasti
akan lebih baik. Kenapa itu tidak mungkin ? aku bisa saja membuat suasana
hatiku seperti cerahnya pagi ini… kenapa tidak ?? tapi… aku penasaran..
sekarang bukan saatnya untuk seperti ini. Sekarang ini adalah saat yang tepat
untuk berangkat ke sekolah karena tidak kusadari sekarang sudah hampir
terlambat.
Pagi ini
aku tidak bersama Fiko, kenapa ?? karena aku kesiangan terlalu banyak waktu
yang ku buang sia-sia untuk memikirkan bagaimana caranya membuat hatiku secerah
pagi ini. Aku mengayun sepedaku sangat kencang. Karena aku harus mengejar waktu
yang masih tersisa 5 menit untuk bisa sampai di sekolah. Oh… tidak ini pertama
kalinya aku berangkat kesiangan. Bagaimana jika aku di benar-benar tidak bisa
mengejar waktu yang sekarang tersisa kurang dari 5 menit… apa yang akan di
katakana teman-temanku jika melihatku terlambat ?? seorang Miyako sekolah di
high vocational school bisa terlambat ??.
Akhirnya
aku sampai di sekolah, dan gerbang sekolah masih terbuka tapi,, aku melihat
kanan kiri hanya aku saja yang belum masuk ke kelas. Cepat-cepat aku
memarkirkan sepedaku dan segera berlari ke kelas. Sudah ku duga… aku masuk ke
dalam kelas dengan menundukkan kepalaku dan langsung mengambil tempat. Aku
duduk dan Fiko segera mengalihkan penadangannya padaku dan bertanya padaku.
“
penulis Yako… kenapa kamu bisa sampai kesiangan ?”
“
emmm… aku malam tadi tidur terlalu larut jadi aku kesiangan.”
Aku menjawab pertanyaan Fiko
dengan wajah tertunduk. Aku merasa aneh bahkan sekarang akau akan berbicara
padanya saja seperti harus menyiapkan mental yang cukup kuat. Aku takut kalau
saja Fiko bisa membaca mimic wajahku yang mungkin menurutnya mengalami
perbedaan. Sebenarnya aku tidak bisa membayangkan kalau dia mengetahui
perasaanku yang sama dengannya, tapi mungkin itu akan ku buang jauh-jauh karena
sekarang ini Fiko bukanlah teman yang menyukaiku lagi. Dia adalah pangeran yang
saat ini hanya di miliki oleh Yumi. Yumi aku rasa sangat cocok dengan Fiko.
Bagaimana tidak sepertinya mereka berdua sangat nyambung dalam pembicaraan
tentang hal apapun itu. Sedangkan aku, berbicara bertatapan wajah saja aku
tidak berani. Hmmm… aku rasa saat ini, itu bukanlah suatu masalah yang besar
itu hanyalah masalah remaja yang akan hilang jika terkena embun. Aku juga tidak
akan pernah membahas yang ada hubungannya dengan itu. Tapi aku pikir aku harus
menerima sebuah kenyataan kalau mereka berdua memang sangat cocok dan mereka
adalah pasangan terbaik. Sekarang ini aku sedang memikirkan hal itu dan aku
melihat ke luar jendela. Betapa indahnya langit yang biru,,, dan betapa
indahnya awan yang putih. Dan dalam hal ini aku hanya sebagai awan mendung yang
setiap saat bisa menurunkan hujan.
Sebenarnya
perasaan ini kalah akan keinginanku untuk bisa membahagiakan ayah dan ibu. Aku
rasa mereka memang lebih dari segalanya bahkan lebih dari Fiko teman terbaikku.
Ayah ibu adalah harta yang tidak akan pernah ternilai harganya, mereka adalah
orang tua sekaligus sahabat bagiku. Ayah dan ibu ku selalu ada setiap aku dalam
kesulitan. Aku sangat merindukan Yuki, kenapa aku tidak bisa satu kelas
dengannya lagi ? dia adalah teman yang baik. Sudah cukup lama akau mengarahpkan
pandanganku ke arah luar jendela dan aku segera mengalihkan pandanganku ke
depan dan…
“
heh… Fiko apa yang kamu lihat ?”
“
eh ? aku melihat Penulis Yako yang sedang melamun ? apa penulis Yako
melamunkanku ?”
“
eh ? itu… aku hanya sedang berpikir bagaimana nanti kalau aku sudah lulus…!”
“
penulis Yako ?”
“
eh ?”
“
aku tidak yakin kalau itu yang sedang kamu pikirkan. Adakah hal lain yang
mengganggumu ?? apa kamu mempunyai masalah ?”
“
eh ? he…he..he aku tidak pernah bisa mempunyai masalah yang serius… emm… lebih
baik kita memperhatikan pelajaran “
Setalh pertanyaan yang di berikan
padaku. Ternyata Fiko masih peduli denganku, dia memang teman yang baik yang
mungkin tidak pernah bisa tergantikan.
Saat bel
istirahat berdering aku langsung mengambil catatanku dan berlari menuju ke
taman tempat biasanya aku menulis. Aku harap ada teman yang akan menemaniku ke
taman, tapi itu bukanlah harapan yang baik. Sebenarnya aku ingin kenal lebih
dekat dengan Yumi. Aku ingin tahu sifatnya yang sebenarnya, saat pertama kali
kau melihatnya aku rasa dia adalah gadis yang sedikit kasar. Tapi dia sangat
lembut ketika berbicara dengan Fiko. Apa itu akan dilakukannya juga padaku?.
Aku sekarang sudah memutuskan untuk tidak lagi mengurusi urusan Yumi dengan
Fiko. Kalaupun mereka berdua menjalin hubungan aku tidak akan peduli aku adalah
teman, dan aku tidak berhak untuk mempunyai perasaan suka pada Fiko. Aku tidak
ingin jalinan pertemanan diantara aku dengan Fiko terlepas hanya karena
perasaan seorang gadis yang tidak jelas arahnya. Iya sekarang aku tidak perlu
malu dan tidak perlu ragu aku harus berteman dengan banyak orang karena setelah
ku pikir-pikir itu akan membantuku untuk mendapat pengalaman yang lebih banyak
lagi. Aku mungkin bisa saling bercerita dengan teman-teman dan mungkin aku juga
bisa menulis dari pengalaman teman-temanku. Rasanya aku tidak sabar ingin
segera lulus dan aku bisa benar-benar menjadi seorang penulis. Aku membayangkan
bagaimana kalau aku nanti sudah lulus dan menjadi seorang mahasisiwi ? hmm… hal
yang baik memang tidak akan pernah bosan dan habis untuk setiap saat bisa
selalu di bayangkan.
Aku suka
membayangkan masa depan, dan aku senang melakukan itu. Tapi aku sendiri tidak
tahu persis bagaimana nantinya jika aku sudah benar-benar di masa depan ? aku
hanya tahu banyak hal mengenai masa depan dari banyak orang. Mereka mengatakan
kalau masa depan itu indah. Aku hanya bisa tersenyum mendengar itu. Iya,,,
karena aku belum memasuki masa depan yang rill. Jika diibaratkan aku hanya subject dan belum sebagai object. Apakah anak lain jga berpikir
sepertiku ?
Kkkkkkrrrrrriiiiiinnnnnggggg……………
Di kelas
seperti ini rasanya sangat menyenangkan jika aku mengenal banyak anak lain. Aku
terkejut setelah dari belakang ada seseorang membentakku. Siapa lagi ? tentu
saja Fiko.
“ hai…
what do you think ?”
“ what do
you think ? tentang apa ?”
“ about
your birthday !”
“ eh ?
itu,, iya tinggal 1 minggu lagi..”
“ apa
kamu tidak mempersiapkan segalanya ?”
“
segalanya ? untuk apa ?”
“
menyambut hari buku dan tentunya penulis Yako yang terkenal !”
“
ha..ha..ha kamu ! aku tidak perlu semua itu. Aku hany perlu ucapan selamat dan
aku bukan penulis yang terkenal.”
“
penulis Yako… aku heran denganmu..”
“
apa yang kamu herankan ?”
“
kenapa kamu tidak ingin seperti gadis lain ? yang minta sesuatu di hari jadinya
?”
“
sekarang aku mau tanya sama kamu… apa artinya semua itu kalau tidak semua orang
bisa melakukannya ?”
“
iya kamu memang benar… penulis Yako,, aku akan tetap menjadi teman terbaikmu…”
“
aku senang mendengarnya… apa yang kamu ketahui tentang masa depan ??”
“
menurutku masa depan itu indah… Miyako.. apakah suatu saat nanti kamu akan
melupakan teman terbaikmu ?”
Mendengar dia bertanya seperti
itu aku langsung menundukkan kepalaku, saat itu aku merasa kalau kita tidak
akan seperti ini lagi berteman dan bersama. Aku sedikit ragu untuk menjawab
pertanyaannya. Jika aku menjawab dengan ya itu mungkin tidak akan seperti
yang aku katakan sekarang. Tapi jika aku menjawab tidak dia adalah teman
terbaik yang aku punya saat ini.
“
hei… apa kamu akan meninggalkanku ?”
“
eh ? maaf Fiko aku rasa pertanyaanmu cukup berat untuk kujawab… apa yang kamu
lakukan jika kamu berada dalam posisiku ? apa kamu akan menjawab iya
atau mungkin tidak ?”
“
iya aku tahu itu… aku hanya tidak ingin pertemanan kita berakhir begitu
saja,,,”
“
hmmm… mungkin saat ini Yumi sedang mencarimu…!!!”
“
eh… bagaimana kalau nanti kita pulang bersama ?”
“
hmmm..”
Setelah
Fiko pergi aku mengeluarkan buku catatanku. Aku ingin karangan pertamaku bisa
dibaca oleh Fiko. Tapi aku ragu sepertinya itu bukan ide yang baik, bisa saja
nanti Fiko menjadi kekasih Yumi dan jika itu terjadi aku hanya akan menjadi
noda hitam antara mereka. Aku tidak ingin semuanya terjadi, apalagi setelah
akhir-akhir ini Fiko sering bersama Yumi. Kriiiiiinnnngggg……
Tidak
biasanya bel tanda pulang sudah berbunyi, apa ada kegiatan yang mengharuskan
kami pulang lebih cepat ? oh, iya aku ingat hari ini aku akan pulang bersama
Fiko. Sebenarnya ini adalah hari yang menyenangkan. Aku akan mengatakan pada
Fiko jika kita akan terus seperti ini setiap hari tanpa mengganggu hubungan
Fiko dan Yumi. Aku yakin keputusanku ini akan membuat Fiko senang. Aku berjalan
menuju parkiran tapi selama aku berjalan aku tidak melihat Fiko biasanya dia
hampir bersamaan denganku.
“
hai… penulis Yako…! kenapa lama sekali aku sudah menunggumu disini..”
“
maaf… aku kira kamu belum disini… apa Yumi tidak bersamamu ??”
“
oh,,, dia sudah pulang!”
aku ingin
bisa berbicara dulu dengan Fiko. Biasanya dia yang selalu mendahului
pembiacaraan. Tapi anehnya aku selalu kaku dan aku malu, padahal kami berteman
sudah cukup lama namun rasa ini memang tidak pernah hilang. Sesekali aku
memandang kearah Fiko yang selalu tersenyum jika mengayuh sepedanya. Dan
mentalku rasanya lemah aku malu dan takut untuk berbicara, apa aku terlalu
polos untuk hal ini. Sebenarnya ini akan menguntungkan bagiku karena dengan ini
aku bisa menjaga pergaulanku dengan anak laki-laki dan itu tidak akan membuatku
rugi. Tapi aku hanya ingin berbicara biasa.
“ hmmm…
Fi…Fiko…”
“ iya,,, “
“ bagaimana
hubunganmu dengan Yumi ?”
“ emmm…
baik kenapa kamu menanyakan hal itu ?”
“
eh ? tidak baguslah kalau begitu. Sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu pasti
kamu akan menyukainya..”
“
benarkah apa itu ?”
“
kamu kan sekarang ini sedang dekat dengan Yumi… benar tidak ?”
“
iya… lalu ?”
“
aku tidak ingin hubunganmu dengannya memburuk. Apa tidak salah kalau kita
selalu pulang dan berangkat bersama ?”
“
menurutku itu tidak salah. Bagaimana kalau menurutmu ?”
“
aku juga merasa itu tidak ada yang salah. Dan aku ingin kita selalu seperti ini
setiap hari. Aku ingin berangkat dan pulang sekolah bersamamu. Kamu adalah
teman terbaikku, dan apa kamu tahu,,? Selama aku sekolah kamu adalah teman
terbaik yang aku miliki selain Yuki. Sekarang pertanyaannya apa kamu tidak keberatan
dengan ini ??”
Saat itu juga Fiko melihatku
sambil tersenyum, sebenarnya aku malu. Bagaimana tidak ? aku yang biasanya
tidak berani berbicara dulu dengannya dan sekali aku mengeluarkan pembicaraan
langsung ke pokok permasalahan. Dan itu sebenarnya bukan aku, tapi hatiku. Aku
tidak ingin kehilangan teman yang begitu baik seperti Fiko.
“
aku tidak akan pernah mempermasalahkan ini Penulis Yako… kita teman bukan ?
kita akan terus seperti ini walaupun diantara kita sudah ada yang mempunyai
pasangan. Dan menurutku itu tidak akan salah dan kita sebagai teman wajar jika
selalu bersama. Bukankah itu hal yang semestinya dilakukan oleh seseorang yang
sedang berteman ? dan apa kamu tahu ? aku menganggap kamu lebih dari seorang
teman tapi sahabat yang mempunyai arti penting dalam hidupku.”
“
maaf… kamu tadi mengatakan walaupun salah satu dari kita sudah mempunyai
pasangan ?”
“
eh ? sebenarnya aku ingin mengatakan ini pada penulis Yako dari kemarin. Aku
ingin mengatakan kalau aku Yumi adalah kekasihku.”
“
tapi waktu itu kamu bilang…”
“
itu pada saat aku belum mengenal Yumi…”
“
oh…!!”
Aku mengalihkan pandanganku dan
aku tersenyum sediri melihat kearah langit, saat itu langit sedang cerah. Dan
aku senang jika Fiko sudah mempunyai pasangan itu artinya aku benar-benar menjadi
seorang teman. Aku juga sangat menghargai Fiko sebagai teman dan tepatnya
sekarang sahabat, dia sudah mempunyai seorang kekasih dan hebatnya dia tidak
melupakanku. Dia tetap bersamaku. Aku memnag yakin dengan Fiko tapi aku kurang
yakin dengan Yumi. Apakah dia akan seperti Fiko ? saat itu juga aku masih terus
tersenyum-senyum dan terkadang aku menoleh kearah Fiko. Dan aku juga tahu kalau
Fiko melihatku sedang tersenyum. Dia mungkin berpikir kalau aku sedang
membayangkan dirinya dengan Yumi.
“
hei… penulis Yako ? apa yang sedang kamu pikirkan ? apa kamu kecewa terhadap
keputusanku ?”
“
apa ? ah… tentu saja tidak. Aku sangat senang… semoga kamu bisa menjadi kekasih
yang baik untukknya. Dan jangan lupa, kamu sebagai seorang laki-laki harus bisa
menjaganya dan jangan kamu rusak kehormatan seorang gadis. Ok !!”
“
siap bosss…”
Ini
memang akan sangat mengasikkan banyak hal yang aku dapat selama perjalanan
pulang tadi bersama Fiko. Dia member banyak hal yang menarik untuk melengkapi
karanganku. Ya Allah… aku hanya bisa berharap jika suatu saat nanti aku bisa
mendapatkan sesuai dengan yang aku inginkan dan itu akan sangat menyenangkan.
Oh… masa depan memang tidak ada habisnya untuk dipikirkan. Ayah dan Ibu selalu
mengatakan padaku kalau masa depan yang baik adalah masa depan yang
direncanakan dari sekarang. Apakah aku sudah melakukan itu ya ? aku tahu masa
depan yang baik juga terletak pada pribadinya. Jika pribadi dalam menyongsong
masa depan dengan selalu berpikir positif dan terus berusaha semampu dia bisa,
itu akan menjadi satu dari sekian kunci menuju kesuksesan. Ok…
“
Miya…”
“
iya Ibu !”
“
sekarang kamu cepat turunlah !”
“
baik bu…”
Aku segera turun dan menghampiri
Ibu juga Ayah, mungkin ada yang ingin mereka ceritakan padaku. Aku suka itu,
mereka adalah guru yang setiap hari tidak pernah bosan mengajariku hal-hal baik
dirumah.
“
iya Bu,, ada yang Miya bisa bantu ?”
“
Miya Ayah sama IBu ingin memberitahu kamu sesuatu kamu pasti senang
mendegarnya…”
“
apa itu Ayah ?”
“
Ayah dan Ibu baru saja mendapatkan surat ini dari teman Ayah di Jepang… mereka
mengatakan kalau ada kesempatan untuk Miya bisa nantinya kalo udah lulus
meneruskan sekolah di Jepang. Miya senang tidak ?”
“
Miya senang Ayah, Ibu. Terima kasih ya Ayah, Ibu !!”
Aku saat
itu sungguh tidak bisa membayangkan betapa senangnya hatiku. Sesuatu yang aku
pikir akan hanya jadi angan-angan saja, tapi ternyata sekarang ini menjadi
sebuah kenyataan yang benar-benar akan aku capai. Aku ingin sukses aku ingin
segalanya yang mungkin akan bisa kudapat, ini reality dan senangnya aku saat
ini tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Aku membaringkan badanku sambil
melihat langit-langit kamarku dan tentu saja tersenyum. Sebenarnya aku tidak
sepenuhnya tersenyum karena tanpa kusadari mataku berkaca-kaca. Dan ini akan menjadi
pengalaman menarikku yang akan aku tambahkan untuk bahan ceritaku yang akan aku
targetkan selesai pada saat hari ulang tahunku nanti. Aku pun belum memikirkan
siapa yang akan menjadi orang pertama yang membaca ceritaku. Apa aku akan
memberikannya pada ayah dan ibu ataukah Fiko. Bahkan Fiko sudah memanggilku
penulis Yako, yang aku rasa itu agak sedikit mengganggu. Setelah sekian lama
aku di kamar aku turun dan tak kusadari kalo ternyata hari sudah malam. Sekan
tahu perasaan hatiku saat ini bintang dan bulan pun muncul di indahnya langit
malam. Phonecellku berdering dan aku sudah menduganya pasti itu Fiko.
Penulis Yako… maukah kamu pergi bersamaku dan
Yumi malam ini ?
Pergi ? bersama Yumi ?
Iya. Kita ke pojok kota bersama-sama kita
berjalan-jalan. Apa kamu tidak keberatan ?
Aku rasa tidak… tunggu aku akan bersiap-siap
!
Aku
berlari ke dalam dan aku minta izin pada ayah dan ibu. Aku rasa mereka akan
mengizinkanku ini hanya jalan-jalan biasa. Dan kita tidak berdua tapi ada Yumi
dan aku rasa itu akan aman.
“
ibu, aku akan pergi jalan-jalan ke pojok kota malam ini bersama Fiko dan Yumi”
“
iya,,,”
Aku sudah menduga kalau ibu pasti
mengizinkanku. Aku segera mengganti pakaian dan aku pergi dengan sepedaku. Di
perjalanan aku tidak melihat Fiko dan Yumi. Apa mereka tidak lewat sini ? aku
terus melihat ke kanan dan kiri jalan. Akhirnya aku melihat mereka berdua
sedang duduk bersama di sebuah taman, dan aku menhentikan sepedaku segera
bergabung dengan mereka.
“
hei… Penulis Yako ! kau sudah datang !”
“
iya… hai Yumi bagaimana kabarmu ?”
“
eh ? aku baik… bagaimana denganmu ?”
“
aku juga baik !”
Aku duduk di samping Yumi dan aku
memandang langit, betapa indahnya malam ini begitu banyak bintang yang
bersinar. Aku tersenyum dan aku sadar kalau Fiko terus memandangiku. Tapi aku
tidak ingin melihatnya karena aku takut dan di tambah lagi ada Yumi. Aku tidak
ingin pertemanan kita akan selesai begitu saja. Sesegera mungkin aku menunduk
dan sesekali mencabuti rumput-rumput kecil di taman. Saat itu Yumi bertanya
padaku.
“
apakah kamu sudah punya kekasih, Yako ?”
“
Miya ! panggil saja aku Miya…”
“
oh ! Miya.. tapi tadi Fiko memanggilmu Yako…”
“
eh ? itu sebenarnya Miya…”
“
apakah kamu sudah mempunyai pasangan Miya ?”
“
emmm… aku,,, belum !!”
“
hah ? bagaimana mungkin gadis cantik sepertimu belum mempunyai kekasih ?”
“
oh… aku belum siap dan masih banyak yang harus aku kejar sebelum semua itu aku
lalui !”
“
aku pikir kamu dan Fiko sangat cocok !”
“
eh ? “
Saat itu aku melihat kearah Fiko
dan dia tersenyum. Dan aku baru sadar kalau ternyata Yumi tidak menyukai Fiko.
Yang bahkan setiap hari bersama.
“
bagaimana dengan Yumi sendiri apakah sudah punya kekasih ?”
“
ha ha ! aku ? iya aku sudah mempunyai kekasih !”
“
siapa dia ? boleh aku tahu ?”
“
dia jauh kita LDR !”
“
oh… apakh dia di luar negeri ?”
“
iya… kami akan bersama ketika nanti aku sudah lulus.”
‘
kalian akan menikah ?”
“
ha ha !! kamu ini sangat lucu tentu saja tidak maksudku kita akan bersama
karena setelah lulus nanti akua kan pindah ke Amerika dan kuliah disana !”
“
oh… iya itu akan lebih baik !”
“
bagaimana denganmu Fiko ?”
“
aku ? “
“
iya kamu ?”
“
aku sedang menunggu seseorang yang tepat !”
“
bagaimana mungkin kamu menjawab pertanyaanku begitu jauh ? aku menanyakan
bagaimana dengan pendidikanmu !’
“
oh ? hehe.. aku akan kuliah tapi aku belum tahu dimana ! mungkin di Jepang !”
“
hahh ?”
Benarkah yang dikatakanya ?
benarkah dia akan kuliah di Jepang ? jika benar bagaimana mungkin ini begitu
kebetulan ? apakah aku akan bertemu dengannya lagi saat kita sudah lulus. Aku
pikir kita akan berpisah.
“
ah.. aku rasa ini sudah malam aku harus pulang !!”
“
baiklah… mari kita pulang !”
Jalan pulang aku ingat apa yang
dikatakan Fiko tadi. Aku masih tidak percaya ini begitu kebetulan.
Pagiku
yang indah sudah menyambutku dengan pelukan hangat dan kasih sayang. Aku pagi
itu tidak sarapan aku langsung berangkat ke sekolah dan aku bertemu dengan Fiko
di jalan. Saepertinya dia membutuhkan bantuan, aku rasa dia sedang bermasalah
dengan sepedanya. Aku menghampirinya, dan memang benar saja.
“
ada yang bisa aku bantu ?”
“
Penulis Yako ? kamu memang pahlawanku. Kamu selalu datang saat aku memerlukan
bantuan !”
“
ini hanya kebetulan saja !”
“
benarkah hanya kebetulan ? bahkan sudah dua kali ini terjadi dan di tempat yang
sama …”
“
sudahlah,,, aku rasa kamu memang tidak pernah punya ikatan dengan kendaraanmu !
kamu selalu bermasalah dengan semua ini !”
“
iya,, kamu memang benar ! bagaimana kalau aku yang membonceng ?”
“
tentu saja.. akan terlihat aneh kalau aku yang memboncengmu !”
Akhirnya kita berangkat bersama
dan di jalan aku menanyakan yang tadi malam dia katakan bersama Yumi.
“
apa yang kamu katakan tadi malam itu benar ?”
“
yang mana ?”
“
di Jepang !”
“
oh ! itu… iya orang tuaku yang akan mengirimkanku kesana !”
“
bagaimana mungkin kita akan satu Negara lagi ketika kita sudah lulus ?”
“
apa yang kamu bicarakan ? aku tidak tahu maksudnya !”
“
emmm… ayah dan ibuku akan mengirimku kesana juga !”
“
benarkah ? kamu pasti merengek ingin kesana kan ketika kamu dengar kalau aku
akan pergi kesana !”
“
hei…! Apa yang kamu katakan aku tidak seperti itu !!! saat kamu mengatakan tadi
malam aku sudah lebih dulu akan ke Jepang !”
“
ha ha !! iya aku tahu kamu tidak seperti itu. Aku baru sekali mendengarmu
berteriak dan itu keren !”
“
bisakah kamu tidak mengejekku sebentar saja ?”
“
kapan aku selalu mengejekmu ?”
“
apakah selama yang kamu lakukan ini namanya tidak mengejekku ? mengatakan kamu
menyukaiku ? memanggilku penulis Yako ! apa kamu tahu itu sedikit aneh dan
terdengar asing “
“
benar kah ? apa di selama di perjalanan tadi kita berbicara terus menerus ? aku
rasa kita sudah sampai !”
“
parkir sepedaku baik-baik !”
“
siap boss..”
Aku
berjalan kekelas lebih dulu Fiko ada di belakangku. Rasanya tidak enak jika aku
harus berjalan beriring-iringan dengan Fiko. Semua anak akan berpikir itu bukan
hal yang biasa. Di kelas aku mengikuti pelajaran dengan sungguh-sungguh karena
aku tahu sebentar akau kan pergi ke Jepang. Aku juga harus bisa berbahasa
Jepang dengan baik. Tidak terasa keseriusanku mengikuti pelajaran sampai waktunya
istirahat. Wow… ini keren ! aku ingin jika suatu saat nanti aku bisa
benar-benar menjadi orang yang sukses. Mungkin anak yang normal akan memiliki
pasangan saat ini, tapi aku yaaa,,, inilah aku. Aku masih harus berpikir dua
kali untuk melakukan hal itu. Ini semua aku lakukan hanya demi kedua orangtuaku
dan masa depanku nanti. Aku yakin kalau aku akan berhasil seperti apa yang aku
inginkan jika aku benar-benar bisa menghindari hal itu untuk saat
Jam
istirahat masih tersisa, aku tetap berada di kelas sementara teman-teman semua
keluar dan aku hanya sendiri di kelas. Aku ingin keluar tapi, rasanya di kelas
adalah pilihan terbaik.
“ hai,,,, penulis Yako !!! aku pikir kamu berada
di luar… penulis Yako bisakah kamu menulis cerita tentang aku ? atau mungkin
kita berdua ???”
“ apa yang kamu katakana Fiko ? aku tidak akan
melakukan hal bodoh itu !!”
“ haha apa kamu pikir itu hal yang bodoh ?? bahkan
aku sangat mengharapkan hal itu. Aku kan ingin kisahku di tulis oleh penulis
yang hebat….”
“ sudah berapa kali aku harus mengatakan padamu
Fiko ? aku bukanlah penulis yang hebat… aku masih dalam proses belajar…”
“ iya aku pikir kamu akan senang penulis Yako…”
“ kamu boleh memanggilku sebagai penulis ketika
aku sudah benar-benar hebat…”
Saat itu
Fiko terus memandangiku, dan tentu saja aku tidak mengindahkannya karena
mungkin itu hal yang buruk yang pernah aku lakukan.
“ penulis Yako,,, itulah hal yang spesial dari
kamu… walaupun saat ini kamu tidak memperdulikanku, aku akan tetap
menyukaimu,,, aku tahu kamu melakukan ini untuk ayah dan ibumu,,, dan aku
memahami itu… aku rasa aku harus menunggu lebih lama lagi… bukankah begitu ?”
Tentu
saja aku tersenyum,,, karena aku memang juga menyukai Fiko sejak pertama kita
bertemu. Tapi dengan penuh berat aku harus menahan semua perasaan ini.
“ heeehhhhh… iya Fiko… aku memang tidak pernah
berani menatap matamu saat bersamamu, tai saat ini aku hanya ingin mengatakan.
Jodoh itu ada di tangan Tuhan, jadi aku rasa jika kita memang berjodoh, kita
pasti akan di satukan. Dan untuk sekarang ini maaf aku belum bisa menerimamu
jika kamu menginginkan itu,,, aku masih ingin mewujudkan semua apa yang aku
inginkan dan aku tidak ingin menyakiti hatimu jadi sekarang kita bersahabat
saja…”
“ iya penulis Yako, aku sudah mengerti itu. Aku
dengar kamu akan ke Jepang. Jadi mungkin kita bisa bertemu kembali,,, aku akan
sangat mengharapkan itu… aku juga bingung dengan perasaanku untukmu penulis
Yako. Ini perasaan yang sama sekali tidak pernah aku rasakan sebelumnya pada
siapapun dan sekarang ini aku merasakannya ketika denganmu… aku tidak tahu
kapan perasaan ini akan menghilang dariku…”
“ aku memahami itu Fiko perasaan seseorang memang
tidak bisa dipaksakan.. aku pernah mendengar istilah bahwa mencintai itu tidak
harus memiliki cukup melihat orang yang kita cintai bahagia kitapun akan ikut
bahagia…”
“ hehh,,, sudahlah aku berada di dekatmu dan
sering denganmu saja aku sudah merasa senang… sebenarnya suatu saat nanti aku
berharap bahwa kita akn bersatu dan kamu memiliki perasaan yang sama denganku…”
Aku
menundukkan kepala,, aku tidak bisa pungkiri bahwa aku sendiri juga menyukai
Fiko. Sebenarnya aku suka berpikir, sampai kapan aku harus memendam perasaan
ini ? aku ingin pada saatnya nanti semua akan terungkap dan aku juga
mengharapkan hal yang sama dengan Fiko. Aku ingin nantinya kita bisa
bersama-sama. Setelah berpikir cukup lama aku mendongakkan kepalaku.
“ eh,,, apa kamu sudah makan ? bagaimana kalau
kita makan bersama ? aku kan membawa makanan ke sini. Kamu tunggu disini ya “
“ ok… aku mau yang manis-manis…”
“ iya baiklah…!”
Aneh
sekali aku tersenyum sendiri. Rasanya ini keren sekali aku mengambilkan makanan
untuk orang yang aku sukai ? ketika aku di Jepang nanti apa aku akan bertemu
dengannya lagi ? aku membawakan untuknya makanan yang manis dan aku juga
membawanya dengan hati yang manis pula. Aku rasa makanan ini akan sempurna.
“ terima kasih… penulis Yako,,, apa nanti kamu
disana akan mengambil sastra ?”
“ ehe… impianku untuk pergi ke Jepang adalah aku
ingin sekolah sastra di sana…!! Bagaimana denganmu ?”
“ aku masih belum pasti… apa aku harus mengambil
jurusan yang sama denganmu ?”
“ mana mungkin ? kamu kan tidak menyukai sastra…
nanti takutnya kamu malah akan menyesal… banyak hal yang dilakukan karena orang
lain malah jadinya tidak seperti yang diinginkan…”
“ tapi bagaimana kita akan bersama kalau kita
berbeda jurusann ?”
“ aku tidak tahu… mungkin kita juga tidak satu
Universitas…”
“ kenapa bisa begitu ? aku akan tetap satu sekolah
denganmu…”
“ kamu memang seperti anak kecil… aku juga tidak
tahu Universitas mana yang akan aku masuki… jadi bersiap-siaplah untuk tidak
bersama..”
“ apakah kamu tidak merasa sedih jika tidak satu
sekolah denganku ?”
“ aku tidak tahu…”
Pada saat
yang sama aku juga berpikir apakah kita nanti bisa bersama. Memang tidak bisa
mengelak jika urusan dengan perasaan aku tidak bisa pungkiri jika aku akan
sangat sedih kalau kita berpisah. Lama aku memendam perasaan ini karena aku
menghargai dan menghormati jasa Ibu dan Ayah. Sambil terus memegang makananku
aku sesekali mendongakkan dan menundukkan kepalaku. Sekolah untuk kelas 12
hampir usai 1 hari lagi aku berulang tahun dan 2 bulan lagi kita akan ujian.
Rasanya hanya sebentar jika waktu tak ku hitung.
Banyak
hal dan cerita yang selalu aku lalui bersama Fiko,, kami kenal hanya seperti
lelucon biasa. Kami juga tak ada maksud untuk mengenal satu sama lain, tapi
takdir mempertemukan kami sehingga kami bisa bersama seperti sekarang ini.
Hhheeehhh… ini melelahkan, coba saja aku tidak pernah bertemu dengannya pasti
aku akan menyukai orang Jepang.
Aku
bingung apakah Fiko benar-benar menyukaiku seperti yang dia katakana padaku ?
karena jika ku pikir-pikir rasanya aneh kalau dia menyukaiku sedangkan kami
belum cukup lama mengenal satu sama lain. Dari sini terbersit dalam benak untuk
menayakan padanya.
“ emmm… Fiko ?”
“ iya ?”
“ apa aku boleh menanyakan sesuatu padamu ?”
“ tentu saja boleh Penulis Yako… memang mau tanya
apa ?’
“ sebelumnya aku sudah berpikir untuk menanyakan
ini padamu… aku juga merasa aneh dengan yang aku tanyakan saat ini!!”
“ apakah Penulis Yako menganggapku sebagai orang
asing ? Penulis Yako bisa tanya segalanya padaku sebisa mungkin aku akan
menjawabnya…”
“ sebenarnya aku merasa aaneh dengan hal ini…”
“ kenapa Penulis Yako semakin berbelit-belit,,, ?”
“ apa Fiko yakin benar-benar menyukaiku ?”
“ kenapa Penulis Yako menanyakan itu ?”
“ tidakkah kamu pernah berpikir ?”
“ tentang ?”
“ tentang kita… kamu bilang kamu menyukaiku dan
akan terus menyukaiku… bukankah kita baru saja kenal ?”
“ kamu sangat aneh Penulis Yako apakah perkenalan
kita selama ini belum cukup meyakinkanmu kalau aku menyukaimu ?”
“ aku tidak tahu… tapi aku berpikir lain ! aku
merasa kalau yang kamu lakukan padaku adalah salah,, dengan menyukaiku seperti
itu, mungkin akan membuat hatimu sakit…”
“ kenapa kamu bisa mengatakan itu ?”
“ karena kita belum tentu akan terus bersama..”
“ bukankah aku sudah mengatakan padamu kalau aku
akan terus bersamamu..”
“ Fiko ? bagaimana jika suatu saat nanti aku
bersama orang lain ?”
“ ehmmm… Penulis Yako bukankah sudah waktunya
masuk ?”
Aku tahu
Fiko mengalihkan pembicaraan karena dia tidak ingin membahas terlalu jauh
mengenai ini. Aku menganggukkan kepalaku, segera mengeluarkan buku study ku.
Hah… lama kelamaan ini semua akan menggangguku. Apa aku harus menghindari bersama
Fiko lagi ? apakah aku harus menghilang darinya ? apakah aku harus melupakannya
? apakah aku harus… heh…
Sepanjang
jam pelajaran aku hanya memikirkan hal ini dan jelas ini telah menggangguku,
apakah keputusanku untuk menghindarinya adalah jalan yang terbaik ? Fiko,
inikah rasanya cinta ? oh Tuhan, apa yang harus aku lakukan ?
rrrrriiiiiiinnnnnggggg……… akhirnya pulang rasanya aku ingin segera
mengistirahatkan otakku.
Berjalan
dan mengayuh sepeda dengan tidak focus. Oh, apa yang harus aku lakukan sekarang
? haruskah aku sharing dengan Ibu dan Ayah ? bagaimana perasaan mereka jika
mengetahui aku di sukai oleh sahabatku sendiri ? sudah jelas-jelas aku sering
tidak berkonsentrasi. Setelah cukup lama aku mengayuh sepedaku akhirnya aku
sampai di rumah. Aku sama sekali tidak bernafsu untuk makan siang. Hah… aku
membaringkan badanku sembari memejamkan mata. Hari ini cukup melelahkan, besok
aku akan genap berusia 17 tahun.
Iya aku
memutuskan untuk menghindari Fiko sampai aku berangkat ke Jepang. Aku tidak
harus menunggu lama aku akan segera berangkat ke Jepang setelah kelulusan nanti
dan itu tidak sampai 2 bulan. Mulai besok aku akan menghindari Fiko, aku akan
menghilang darinya sehingga dia akan melupakan aku. Aku memang baru pertama
kali merasakan suka pada seseorang dan ini saja sudah membuatku kehilangan
konsentrasiku, apalagi kalau aku menjadi kekasih Fiko ?
“ Miya ?”
Suara Ibu
membuyarkan lamunanku. Aku segera menjawabnya.
“ iya Bu ? ada apa ?”
“ kamu tidak makan siang ? ayo turun kita makan
siang bersama”
“ tidak Ibu, Miya sudah kenyang, tadi Miya sudah
makan dengan teman Bu..”
“ baiklah Kami makan ya !!!”
“ iya Ibu..”
Ting..ting..
Kulihat
handphone ku.
Penulis Yako,,, bukankah besok Penulis Yako
berulang tahun ?
Penulis Yako mau minta apa dariku ?
Tidak ada
yang bisa aku lakukan sekarang. Aku sudah berjanji untuk menghindarinya. Maaf
Fiko bukan karena aku tidak menyukaimu tapi orang tua adalah segalanya bagiku.
Aku tidak akan mengecewakan mereka yang bisa membuatku seperti sekarang ini.
Aku tahu kamu sangat menyukai ku. Ku dengar teleponku berdering dan aku sudah
menduga kalau itu adalah Fiko aku tidak akan menjawab teleponnya. Aku pun tidak
yakin kita bisa bersama lagi.
Hari
terasa begitu cepat, tidak terasa pagi telah tiba lagi. Saatnya aku menjalani
hari seperti yang telah berlalu. Aku
harus sekolah, aku harus belajar, aku harus makan dan lain-lain. Untuk
menjalani semua itu mudah bagiku, tapi ada satu hal yang menurutku sulit. Kalau
orang mengatakan seperti peribahasa mencari jarum di tumpukan jerami. Mungkin
itu sekarang yang aku hadapi.
“ Ibu,,
Miya berangkat ke sekolah…”
“ Miya,,,
kamu tidak sarapan ayo dong sarapan bersama kami !!”
“ ehmmm..
baik Ibu..”
“ Ibu lihat akhir-akhir ini kamu tidak pernah
sarapan bersama kami,,, apa ada masalah ?”
“ eh ? tidak Ibu,, Miya hanya sibuk saja ! Miya
kan sebulan lagi ujian Bu,, maklum kalau Miya selalu tidak ada waktu untuk
itu,, Miya minta maaf ya Bu !!”
“ kenapa kamu minta maaf, Ibu tahu kalau tentang
itu. Ibu pikir ada yang lain yang membuat kamu banyak masalah.”
“ hahah… mana mungkin Ibu ? Miya kan anak baik
Bu,, jadi tidak mungkin Miya punya masalah sama teman-teman Ibu..”
“ oh,, ya ! semoga panjang umur ya Miya. Semoga
kamu bisa menjadi kebanggaan kami dan menjadi anak yang kami harapkan..”
“ iya IBu, Ayah terima kasih.”
“ Miya cepat berangkat sana. Nanti kalau terlambat
kan repot.”
“ iya Ayah. Miya berangkat..”
Oh iya,
hari ini kan hari jadiku yang ke-17. Bahkan aku hampir lupa dengan hari ulang
tahunku. Apa yang aku pikirkan sekarang ? aku membuka handphone ku dan kulihat
ada pesan yang masuk. Fiko ? apa isinya ?
Semoga panjang umur Penulis Yako. Jadilah
orang seperti yang orang tuamu harapkan dan terus jadilah sosok yang aku
dambakan. Penulis Yako,,, mungkin aku hanya satu-satunya orang yang memberikan
panggilan untukmu. Apakah ada orang selain aku yang memanggilmu Penulis Yako ?
kamu akan tetap menjadi seseorang yang berarti untuk hidupku…
Hahaha…
anak ini sungguh lucu. Bisa saja dia membuat aku tertawa ? tapi untuk sekarang
aku masih tetap dengan pendirianku untuk menghindarinya. Dan aku lupa,, dia
adalah orang pertama yang mengingat hari ulang tahunku. Aku melihat pada
laporan di pesan tadi yang menunjukkan pukul 12.00 a.m. Betapa sekarang aku
tahu bahwa dia tidak hanya main-main dengan perasaannya. Tanpa ku sadari aku
masih berdiri di depan sepedaku cukup lama. Aku segera mengayuh sepedaku
kencang-kencang, karena aku tidak ingin terlambat. Setelah cukup cepat aku
mengayuh sepeda akhirnya aku sampai di parker sekolah. Disana aku bertemu
dengan Fiko yang tersenyum padaku. Aku memang tidak bisa menahan untuk tidak
membalas senyumannya. Tapi akhirnya aku tidak membalasnya karena aku segera
berlalu darinya. Aku mendengar suara langkah yang cepat. Kupikir itu memang
Fiko yang mengejarku.
“ Penulis Yako… sekarang sudah 17 tahun ya ? kenapa tidak mentraktirku ?”
“ ehm,,, maaf Fiko aku harus cepat ke kelas…”
“ Penulis Yako,,, apa pesanku tadi malam lucu ?”
“ eh ?”
“ kenapa kamu tidak membalasnya ?”
“ Fiko ? bisakah kita bicara nanti saja ?”
“ Penulis Yako,,, bagaimana kalau kita nanti makan
siang bersama ?”
“ Fiko !!!!!! apa kamu tidak mendengarku ? aku
tidak mau. Kita bicara nanti saja kalau ada waktu…”
Saat itu
kulihat wajah Fiko yang menunduk dengan raut kecewa. Sebenarnya aku tidak ingin
melakukan itu padanya, namun apa daya ? aku sudah terlanjur dengan keputusanku.
Ini semua aku lakukan hanya demi keberhasilanku. Aku pasti akan kembali pada
saatnya nanti. Aku pun tahu perasaannya saat ini. Aku berjalan dengan cepat dan
sesekali menengok ke belakang, kulihat dia masih menundukkan kepalanya. Apa
kata-kata ku tadi menyakiti hatinya ? entahlah…
Setelah
apa yang aku lakukan pada Fiko beberapa saat yang lalu, aku tidak berani
menoleh ke depan tepatnya ke bangku Fiko. Aku lihat dia juga tidak menoleh ke
arahku. Biasanya setiap menit dia selalu tersenyum padaku. Apa dia sudah merasa
kalau aku menjauhinya ? ah.. entahlah. Aku segera mengeluarkan buku ku karena
Bu Mirna sudah masuk ke kelas. Tapi hari ini bukan pelajarannya Bu Mirna dan
lagi Bu Mirna adalah wali kelas kami. Mungkinkah ada yang ingin di sampaikan
oleh Bu Mirna ?
“ Good Morning Students !!”
“ Morning Mrs.”
“ Ibu minta kalian menyiapkan selembar kertas dan
alat tulis.. tidak ada buku atau alat-alat yang lain selain yang saya minta..!”
“ iya bu…”
Aku segera
mengerjakan apa yang Bu Mirna minta. Aku rasa ini aka nada test. Tapi tidak
seperti biasanya ada test seperti ini.
“ hari ini aka ada test.. dan kalian tahu kenapa
saya tiba-tiba mengadakan test dadakan ?”
“ tidak bu…”
“ kabar baik… karena ujian akan di majukan menjadi
2 minggu lagi !!”
“ ha… 2 minggu ? tapi kami masih banyak materi
yang belum di mengerti Bu…”
“ iya Ibu tahu,,, makanya dengan adanya test ini
akan melatih kalian untuk meningkatkan daya ingat…”
akhirnya
dengan pelan aku mengeluarkan selembar kertas… saat itu aku terus bertanya
apakah aku akan siap menghadapi ujian yang akan jatuh 2 minggu lagi ? rentetan
soal muncul di hadapanku, dan anehnya aku tidak ada keraguan sedikitpun untuk
mengerjakan soal-soal itu. Apakah aku terlalu bersemangat untuk ini ? 30 menit
berlalu aku pun sudah selesai mengerjakan soal-soal itu. Kulihat banyak temanku
yang menggaruk-garuk kepala menandakan bahwa soal-soal ini memang sulit.
Aku
melihat kedepan. Fiko tanpa mendengakkan kepalanya sedikitpun, aku tahu ia
terus berpikir. Entah soal yang dipikirkannya kah atau hal yang lainnya. Siapa
yang bisa membaca pikiran seseorang kecuali Tuhan ? aku rasa aku hanya percuma
saja menunggu jawabanku yang sedari tadi lelah menungguku untuk segera
membawanya pada Bu Mirna. Beranjaklah aku dari bangku ku yang terasa capai
karena ku duduki.
“ Bu..
aku sudah selesai..”
“ kamu
cepat sekali Miya… ya sudah kamu boleh keluar…
Anak-anak
waktu kalian tinggal 30 menit lagi…”
Aku
segera meninggalkan kelas dan pergi keluar. Saat itu aku sempat melirik Fiko
tetapi itu hanya sebentar. Karena kenyataannya dia tidak mengetahuinya.
Kudengar derap langkah tepat di belakangku aku menoleh dan terkejutnya aku
karena ternyata itu adalah Fiko. Aku segera mempercepat langkahku namun Fiko
malah berlari dan mendekatiku.
“ Penulis Yako… kenapa kamu lari ? aku heran
karena akhir-akhir ini kamu terus menghindar dariku apa aku punya kesalahan ?”
“ oh… itu
aku ada sedikit masalah Fiko maaf aku harus pergi…”
“ aku yakin bukan itu alasan yang ingin kamu
katakan.. iya aku memang sudah paham sejak kamu mulai menghindariku,,, aku tahu
kamu tidak ingin menyakitiku kan ? jika suatu saat nanti kita tidak bisa
bersama ?”
“
eh… Fiko bukan itu maksudku aku hanya,,, ingin tenang sejenak…”
“
kamu ingin tenang tapi bukan begini cara kamu untuk tenang…”
“
tidakkah kamu berharap kita akan bersama ? jika seperti ini rasanya kamu tidak
berpikir sama sepertiku…”
“
iya Fiko aku tahu kalau kamu sudah menyadarinya. Setelah aku pikir-pikir lama
aku sampai pada pemikiran bahwa belum tentu kita akan bersatu dan bersama,,,
siapa tahu kamu akan mendapatkan yang lebih baik dari aku… aku hanya ingin
tidak ingin kamu sakit hati nantinya…”
“
bukankah jodoh sudah ada yang mengatur. Jika memang takdir berkata kita tidak
akan bersama maka itu bukan masalah tapi apakah salah jika manusia berusaha
untuk itu ? jika memang kenyataannya kita tidak bisa bersama pasti Tuhan akan
memberikan jalan yang terbaik bagi masing-masing dari kita… tapi bukan seperti
ini cara kamu menyikapinya..”
“
iya Fiko aku tahu,,, tapi bukankah ini berat ?”
“
semua yang kita jalani di dunia ini memang tidak ada yang mudah dan instan
perlu adanya sedikit atau bahkan seluruh pengorbanan untuk mencapai apa yang
kita harapkan “
“
iya Fiko maaf…”
“
apakah kamu akan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi ?”
“
aku akan berpikir dulu sebelum memutuskan… saat ini kita hanya harus focus pada
ujian yang akan kita hadapi 2 minggu lagi…”
“
aku rasa berpikir untuk memutuskan hal yang kecil seperti ini hanya akan
membuang-buang waktu saja… jadi berjanjilah untuk sekarang..”
“
aku janji… tapi aku tidak mau di salahkan jika suatu saat nanti kita akan
saling melupakan…”
Aku
melihat sirat raut wajah kecewa yang tampak pada wajah Fiko. Aku tahu kalau dia
tidak menginginkan hal ini. Tapi bagaimanapun aku sudah melanggar janjiku untuk
menghargainya. Kami berjalan bersama tanpa ada satu katapun yang terucap dari
mulut kami. Kami hanya diam terpaku satu sama lain sambil sesekali tersenyum
menoleh. Saat itu aku tidak langsung pulang, karena masih ada tambahan bimbel.
Hal yang
seperti ini apakah akan aku rasakan lagi nanti ? Miyako gadis yang lugu masih
tetap mempertahankan rasa hormat pada orang tuanya. Yah,,, tapi itulah aku. Aku
jujur bahwa kau memang tidak ada niat sedikit pun untuk membuat kecewa orang
yang aku sayangi utamanya Ayah dan Ibu. Walau aku sudah pernah mempunyai rasa
suka pada seseorang namun, sampai detik ini aku belum berani untuk berpasangan
(pacaran) seperti yang kebanyakan para gadis lakukan. Aku pikir hal ini adalah
suatu pantangan tersendiri untukku. Karena Ayah pernah mengatakan bahwa tidak ada gunanya senang saat sekarang jika
tua tidak tersenyum. Kata-kata Ayahlah yang sampai saat ini terus memberiku
motivasi.
Sudah
sekitar 5 menit kita berjalan bersama namun, satu kata pun masih belum terucap
diantara kami. Aku tahu Fiko mungkin merasa bersalah padaku karena sudah
membentakku, walau kami sudah bersama lagi. Apa yang harus aku tanyakan padanya
? hal apa yang perlu aku bicarakan ? saat-saat seperti ini kenapa tidak ada
satu topic pun yang keluar ? padahal biasanya banyak hal yang penasaran ingin
kutanyakan padanya.
“
Penulis Yako ? apakah tulisanmu sudah selesai ?”
“
emm,,, sedikit lagi. Mungkin aku akan menyelesaikannya usai ujian nanti.”
“
benarkah ? siapa tokoh utama dari tulisanmu itu ?”
“
ha ? maaf Fiko aku tidak bisa mengatakan sekarang kamu akan tahu nanti ketika
aku menyelesaikannya…”
“
oh,, begitu !”
“
sampai kapan kita akan berjalan begini terus ? aku rasa dari tadi kami tidak
berhenti..”
“
bagaimana kalau kita ke perpustakaan ?”
“
kenapa kamu tidak mengatakannya dari beberapa menit yang lalu ? sekarang kita
sudah di lantai bawah ! akankah kita kembali ke atas ?”
“
kenapa tidak… ayo kalau bisa kamu kejar aku…!”
“
aku tidak bisa berlari jadi kita berjalan pelan saja…”
Setelah
satu kata muncul dari mulut Fiko,, pembicaraan yang biasa kami lakukan pun
akhirnya tersambung. Kami tidak lagi canggung. Dan setelah 3 menit berjalan
dari lantai bawah akhirnya kami sampai di perpustakaan. Aku menuju pada sebuah
buku yang berjudul Penulis Hebat aku sangat tertarik pada buku itu. Fiko hanya
tersenyum melihatku memegang buku itu, dan dia pun tidak tahan untuk bertanya
padaku.
“ Penulis
Yako… apakah buku itu menarik perhatianmu ?”
“ heh…
kalau ini tidak menarikku tidak mungkin aku mengambilnya…”
“ aku
rasa ini juga cocok untukmu…”
“
benarkah ?”
Aku
membaca buku itu. Dan benar saja ini sangat menarikku. Buku ini berisi
bagaimana memulai untuk menumbuhkan rasa cinta pada menulis sampai dengan
bagaimana cara menjadi penulis yang hebat. Aku tersenyum-senyum sendiri membaca
buku ini. Karena keinginanku untuk menjadi seorang penulis yang hebat sangatlah
besar, aku tidak tahu ini secara tidak langsung tumbuh dalam diriku. Aku begitu
mencintai buku dan menulis. Walau terkadang aku tidak paham tentang apa yang
aku tulis namun aku suka melakukan hal itu. Daripada melakukan hal-hal yang
tidak berguna lebih baik aku menulis walau itu tidak berarti. Tapi menurutku
semua tulisan itu pasti dibaca dan mempunyai arti.
Sebenarnya
aku belajar banyak dari Ayah dan Ibu. Mereka adalah pasangan yang mencintai
buku, mereka memperkenalkan buku padaku dari aku berumur 3 tahun. Tapi untuk
menulis itu adalah sesuatu yang tumbuh tersendiri dalam diriku. Aku menjadi
tidak sabar untuk segera menyelesaikan ujianku dan melanjutkan sekolah di
Jepang. Semua ini seperti aku telah menggapainya. Aku banyak berharap jika
Jepang akan merubahku menjadi seseorang yang lebih hebat dan berkarakter.
“ Penulis
Yako,,, Penulis Yako,,,”
“ ha ?
iya kenapa Fiko ?”
“ aku
harus pulang sekarang. Ada hal yang harus aku lakukan !!!”
“ oh…
iya.. iya Fiko”
Fiko
pulang entah apa yang sedang di pikirkan dan terjadi saat ini. Dia tiba-tiba
terburu-buru untuk pulang. Tapi tidak biasanya dia seperti ini. Aku terus membaca
buku yang sedari tadi aku pegang. Buku itu benar-benar menrik perhatianku.
Rasanya aku ingin meminjam buku itu, karena mustahil aku akan selesai membaca
hari ini sedang buku ini tebal sekali. Sayang, aku sudah kelas XII jadi aku
tidak bisa meminjamnya. Kring…kring…kring… bel tanda masuk berbunyi aku harus
segera kembali ke kelas.
Sampai di
kelas aku tidak melihat Fiko di bangkunya. Aku bertanya pada Yumi, yang saat
ini sedang memutar-mutar phonecellnya.
“ee..
Yumi… apa kamu tidak melihat Fiko ?”
“ ha ?
tadi aku lihat dia bersamamu kan ?”
“ tapi
dia terburu-buru untuk pulang,,,”
“ maaf
Miya ! aku tidak tahu…”
“
iya… Yumi aku hanya tau siapa tahu kamu tahu… kamu kan teman sebangkunya..”
Yumi
tidak menanggapi apa yang aku katakan dia hanya tersenyum. Aku menuju tempat
dudukku. Saking asyiknya aku dengan buku itu aku sampai tidak menghiraukan Fiko
pada saat dia akan pulang tadi. Sekarang aku malah ingin tahu dia ada urusan
apa. Baru saja aku duduk tapi aku segera bergegas menyusul Fiko pulang, aku
berlari menuju parkiran sampai di sana aku mengambil sepedaku dan mengayuh
dengan kuat. Saat itu aku berpikir bahwa telah terjadi sesuatu pada Fiko.
Meskipun aku mencoba menjauhinya tetapi hati kecilku berkata lain aku masih
peduli padanya.
“
penulis Yako ?....”
Dari jauh aku mendengar seseorang
yang memanggil namaku. Tidak berpikir panjang aku langsung menoleh kesamping
kanan dan ternyata benar saja itu adalah Fiko. Aku bingung dia bilang dia
pulang kerumah tetapi sekarang aku menemuinya disini.
“
Fiko,,, kenapa kamu disini ? bukankah kamu bilang tadi buru-buru pulang ?”
“
iya aku memang pulang karena ibuku masuk rumah sakit..”
“
apa yang terjadi dengan ibumu Fiko ? ibumu sakait apa ? apakah parah ?”
“
ha ha ha penulis Yako kamu ni sangat lucu. Sepertinya kamu begitu khawatir
dengan ibuku ada apa ?”
“
e,,, apakah tidak wajar kalau seseorang mengkhawatirkan keadaan orang yang
sedang sakit ? apalagi yang sakit adalah ibu sahabatku sendiri..”
“
ha ha ha iya aku tahu. Ibuku sebenarnya sudah lama sakit, ibuku sering kelelahan
“
“
oh,, kasihan sekali ibu kamu Fiko !! bolehkah aku melihat ibumu di rumah sakit
?”
“
e,,, besok saja aku akan menjemputmu di rumahmu “
“
baiklah… dan sekarang kamu mau pergi kemana ?”
“
aku akan mengantarmu pulang !!”
“
tidak usah Fiko,, aku bisa pulang sendiri. Lebih baik kamu pergi menemani ibumu
kasihan dia sendirian.”
“
tidak apa-apa penulis Yako hanya sebentar saja “
“
baiklah kalau kamu memaksa..”
Fiko
mengantarkan aku pulang dan kami naik sepeda bersama tetapi ada yang aneh dari
Fiko hari ini. Entah karena ibunya sakit atau karena ada hal lain yang
mengganjal pikirannya. Tidak lama aku sampai di rumahku.
“
Fiko sudah sampai sekarang kamu bisa kembali ke rumah sakit,,, sampaikan
salamku untuk ibumu…”
“
iya penulis Yako terima kasih atas rasa simpatimu pada ibuku… tapi maafkan aku
ya penulis Yako…”
“
maaf ? apa yang harus aku maafkan kamu tidak punya salah padaku…”
“
ah,, baiklah aku harus segera pergi..”
“
e,,, Fiko terima kasih ya…”
“
ok…”
Fiko berlalu sambil tersenyum
namun memang ada yang aneh darinya hari ini. Dia tidak seperti biasanya.
Tidak
terasa hari sudah pagi setelah semalaman aku membaca buku milikku yang kemarin
itu. Aku harus segera bersiap-siap karena hari ini aku akan pergi ke rumah
sakit untuk menjenguk ibu Fiko. Aku segera mengambil phonecell dan mengirim
pesan pada Fiko.
Fiko jam berapa kamu akan menjemputku ?
Segera…
Baik aku akan bersiap-siap
Ok..
Apa yang harus aku bawa untuk
menjenguk ibu Fiko ? apakah ibu punya sesuatu untuk dibawa ?
“
ibu,,?”
“
iya Miya ?”
“
apa ibu punya sesuatu untuk aku bawa..”
“
sesuatu apa ? mau dibawa kemana ?”
“
ibu Fiko sakit dan hari ini aku akan menjenguknya di rumah sakit..”
“
ibu Fiko sakit ? sakit apa Miya ?”
“
kata Fiko hanya kelelahan tapi aku tidak tahu pastinya…”
“
oh,,, kebetulan hari ini ibu membuat kue.. kamu bisa membawanya ke rumah sakit
“
“
iya ibu,,, ehmmm ibu maaf apa ibu mau menyiapkannya untuk Miya ?,,,”
“
iya kamu siap-siap saja.”
“
baiklah bu,,, aku sayang ibu…”
Aku naik keatas ke kamarku untuk
segera bersiap-siap. Aku memilih baju yang akan aku kenakan hari ini karena
mungkin dengan Fiko sudah biasa tapi tidak untuk ibunya. Krinngg,,, phonecell
ku berbunyi.
Penulis Yako aku sudah di rumahmu
Apa ? kamu cepat sekali ? aku akan segera
turun
Baiklah..
Tok..tok…
“ Miya,,,
Fiko sudah datang “
“ iya
ibu,, sebentar Miya sebentar lagi..”
“ baik,,
jangan lama-lama kasihan Fiko menunggu “
“ iya
ibu,,,”
“
sebentar ya Fiko,, Miya belum selesai bersiap-siap”
“ iya
tante “
Bagaimana bisa kamu bilang akan segera turun
?
Hehe…
Kamu harus membayarnya…
Aku turun
Akar-akarku sudah semakin menjalar
Hahaha,,, baiklah
“ mari
Fiko… kita berangkat..!!”
“ ok…”
“ Miya,,,
ini lupa..”
“ oh iya
ibu,,, terima kasih Miya berangkat ya bu,,”
“ iya
hati-hati “
“ mari
tante..”
“
iya..iya Fiko salam untuk ibumu ya kapan-kapan tante kalau sudah ada waktu
pasti jenguk ibu kamu…”
“
iya tante Miya saja sudah sama saja tante…”
Kami
berangkat bukan naik mobil atau motor tapi kami naik sepeda. Hal yang tak biasa
yang dilakukan oleh banyak orang. Haha kami sangat lucu,, apakah di jepang
nanti kami juga akan seperti ini ? Fiko terlihat tersenyum tapi entah apa yang
dipikirkannya ?
“
penulis Yako ? apakah kamu berpikir kita akan seperti ini ketika di Jepang ?”
“
apa ? aku tidak berpikir seperti itu Fiko…”
“
aneh sekali tapi aku merasa kalau kamu berpikir sama denganku…”
“
apa yang sedang kamu pikirkan ?”
“
aku berpikir bahwa kita akan selamanya bersama termasuk di Jepang”
“
ehmm,, sayang sekali Fiko aku tidak sama denganmu..”
“
aku tidak tahu mana yang benar bisa saja kamu hanya bohong padaku.. siapa yang
tahu isi hati seseorang ?”
“
aku benar aku memang tidak memikirkan hal itu,,, apakah kita masih jauh ?”
“
tidak sekitar 3 menit lagi..”
“
kakiku sudah sakit,, ingin segera turun…”
“
aku tahu kamu hanya ingin menghindariku..”
“
bagaimana bisa Fiko ? aku kesini bersamamu selama itu dan kita berbicara
dijalan.. bagaimana bisa aku menghindarimu…”
“
aku rasa,,”
“
baru begini saja kamu sudah membuatku kesal..”
“
baiklah aku minta maaf !!”
“
kita sudah sampai cepat beritahu aku dimana kamar ibumu ?’
“
ikuti aku !!!”
Aku
mengikuti langkah Fiko menuju kamar ibunya. Semakin bergdegup jantungku karena
baru pertama kalinya aku akan bertemu dengan ibunya Fiko. Sementara itu aku
sudah sangat lama mengenal Fiko. Langkah Fiko semakin cepat dan memaksaku untuk
melangkah lebih cepat pula. Setelah begitu cepat melangkah akhirnya aku
berhadapan dengan sebuah pintu, yang pelan-pelan Fiko buka.
“ ibu..”
“ Fiko ?
dengan siapa kamu ?”
“ aku
bersama temanku namanya Miyako…”
“ hallo,,
tante,, saya Miya bagaimana keadaan tante ? “
“
oh,, ini ya yang namanya Miyako ? tante
sudah baikan Miya,,, Fiko sudah cerita banyak tentang kamu sama tante… Fiko
sangat mengagumi kamu…”
“
eh,, tante bisa saja “
“
ibu,, jangan seperti itu..”
“
oh,, iya Miya kenalkan ini namanya Sora teman dekat Fiko…”
Saat itu
aku langsung tertegun,, diam sejenak dan terkejut. Bagaimana bisa Fiko yang
selama ini mengagumi dan mengejarku bisa memiliki seorang teman dekat dan dia
tidak pernah menceritakannya padaku. Aku tersenyum dan bersalaman dengan Sora.
“ hai
Sora.. aku Miya temannya Fiko..”
“ Hallo,,
Miya senang bertemu denganmu “
“ oh iya
tante tadi ibu menitipkan ini buat tante..”
“ wah,,
terima kasih Miya sampaikan terima kasih tante pada ibumu ya “
“ iya
tante sama-sama”
Aku masih
sedikit heran dengan sikap Fiko yang selama ini selalu menggangguku dan dengan
bodohnya aku terlena olehnya. Harusnya aku anak yang masih polos bisa belajar
hal-hal kecil seperti ini dari lingkunganku dan akhirnya aku sendiri bisa
tertipu. Dasar aku sudah berusaha untuk mempercayainya tapi kenapa tidak ada
seorang temanpun yang bisa menghargai bahkan setia padaku. Aku memandang kearah
Fiko yang mencoba mengisyaratkan sesuatu padaku. Seolah dia ingin mengatakan
bahwa ini bukanlah kemauanya. Dan aku segera mengalihkan pandanganku darinya.
“
Sora… ini sudah dijodohkan dengan Fiko sejak mereka masih kecil Miya.. orang
tua Sora adalah teman suami saya..”
“
oh,,, begitu ya tante ? baguslah artinya mereka sudah bisa mengenal satu sama
lain…”
“
iya,, ehmmm setelah lulus kamu mau melanjutkan kemana Miya ?”
“
Miya mau ke Jepang tante.. do’akan Miya ya tante..”
“
oh,, iya Miya semoga kamu berhasil..”
“
Fiko juga katanya ingin sekolah di Jepang tapi aku tidak tahu dia serius atau
tidak ingin pergi kesana”
“
ah,, mungkin Fiko hanya bercanda tante iya kan Fiko ? kemarin katanya kamu mau
ke Amerika saja “
“
masa ? tante sih setujunya juga seperti itu Miya soalnya ayahnya kan disana
pinginnya biar bisa berkumpul bersama..”
“
hehe… oh iya tante sepertinya Miya sudah lama disini,, Miya harus pulang tante
“
“
oh iya,,, iya Miya hati-hati di jalan “
“
Sora mari “
“
Iya Miya senang bertemu denganmu..”
“
aku juga,,,”
“
bu,, aku mau mengantar Miya sebentar ya bu…”
“
oh tidak perlu Fiko aku akan pulang sendiri karena ada sesuatu yang harus aku
lakukan terima kasih. Permisi !”
Aku
meninggalkan kamar ibu Fiko. Aku berlari karena aku tahu Fiko akan segera
menyusulku, aku tidak ingin mendengar alasan dari seorang Fiko. Sudah cukup
selama ini aku berteman dengan orang yang salah. Aku pikir dengan berteman
dengannya bisa merubahku menjadi pribadi yang lebih baik tapi ternyata aku
salah semua ini malah menyulitkanku dan membuatku sedih. Rasanya aku ingin
segera ujian dan meninggalkan Indonesia, meninggalkan semua kenanganku selama
bersekolah disini.
Aku janji
mulai besok sampai nanti aku ke Jepang aku tidak akan menghubunginya lagi. Aku
tidak mau merusak hubungannya dengan Sora, sementara Sora adalah gadis yang
baik dan ramah yang tak jauh denganku. Kringg…
Penulis Yako aku tahu kamu pasti kecewa
denganku tapi aku benar-benar tidak setuju dengan keputusan ayah dan ibuku itu
semua kemauan mereka aku akan menjelaskan semuanya padamu… aku hanya
menyukaimu… aku tahu kamu berpikir bahwa aku adalah seorang teman yang tidak
bisa dipercaya aku sedih penulis Yako kamu seperti ini… aku tadi hanya diam
saja karena pasti percuma menjelaskan semuanya kamu tidak akan mendengarkan aku
dan apalagi ibuku sedang jatuh sakit… maaf…
Sedih
rasanya membaca pesan dari Fiko. Rasa percayaku padanya sudah sedikit demi
sedikit luntur. Apakah karena dia terlalu dekat denganku sehingga begitu
mudahnya kepercayaanku padanya luntur ? kasihan juga aku akan lebih kasihan
dengan Sora yang begitu polosnya dia hanya terdiam tanpa ada rasa curiga
sedikitpun padaku meskipun aku dan Fiko memang hanya benar-benar teman biasa
dan sekarang lebih sangat biasa lagi.
Sudah
berhari-hari aku dan Fiko tidak menyapa satu sama lain bahkan ketika kita
bertatap muka. Aku tahu dia sangat sedih terlihat dari wajahnya. Sebenarnya aku
kehilangan sosok yang selalu menggangguku dan jail padaku. Tapi rasa skit
hatiku ini menutup semuanya, sebenarnya sangat aneh karena aku hanya teman dan
merasa tersakiti seperti ini. Tidak terasa pula ujian yang begitu sulit ini
sudah aku hadapi dengan mudah, tinggal menunggu saat pengumuman kelulusan dan
wisudha. Setelah itu, aku akan segera terbang ke Jepang dan memulai semuanya di
Jepang tanpa seorang Fiko lagi. Mungkin aku akan bertemu dengan orang Jepang
yang akan menjadi sahabatku dan bahkan mungkin kekasihku.
Setelah
menghadapi ujian ini aku hanya mengisi hari-hariku dengan banyak membaca
buku-buku Jepang. Aku biasa bersepeda ke taman untuk membaca buku di sore hari,
aku sudah terbiasa dengan hal itu. Bukahkan itu akan lebih baik daripada aku
marah dengan orang yang tidak jelas. Ibuku sering menanyakan Fiko padaku.
Karena aku tidak mengatakan pada ibu tentang Fiko. Aku hanya menjawab kalau Fiko sedang sibuk, benar kata
ibu kalau mempunyai kekasih itu hanya akan menyakitkan padahal aku belum
mempunyai kekasih dan aku sudah tersakiti.. haha lucu sekali.
Sore itu
aku bersepeda seperti biasanya ke taman sambil membawa buku Jepang yang biasa
aku baca. Dan aku melihat Fiko bersama Sora bersepeda bersama. Mungkin mereka
tidak mengetahui keberadaanku, dan aku tidak melihat terlalu lama karena
tiba-tiba Yuki menghampiriku.
“ hei,,,
Miya,,, kam sedang melihat apa ?”
“ ah,,
Yuki kamu mengagetkanku tidak biasanya kamu kesini “
“ he,,,
pertanyaanku belum kamu jawab apa yang sedang kamu lihat ?”
“ ah,,
tidak aku hanya tadi seperti melihat Yumi… apa aku salah lihat ya ?”
“
oh… kamu tidak tahu ya ? Yumi kan sudah lama pindah setelah ujian usai dia ikut
kekasihnya…”
“
benarkah ?”
“
ah kamu ini kemana saja ? oh iya,, aku jarang sekali melihatmu bersama Fiko ?
bukankah dulu kamu sangat akrab dengannya ? bahkan seperti lem dan kertas saja
“
“
eh ? kamu mungkin salah lihat aku tidak pernah seakrab itu dengan Fiko… aku
hanya teman biasa…”
“
yang benar ? kamu sedang ada masalah ya dengannya ?”
“
masalah ? untuk apa aku mempunyai masalah dengan anak laki-laki ?”
“
ya siapa tahu saja kamu memang ada masalah dengannya karena mungkin kalian
menjalin hubungan sebelumnya…”
“
apa kamu bilang ? menjalin hubungan ? heh,, yang benar saja ?”
“
iya percaya deh sama kamu… kamu itu kan anak yang rajin. Oh iya,,, pengumuman 2
hari lagi ya,,, senangnya..”
“
kamu berencana akan kemana setelah ini ?’
“
aku akan di rumah saja membantu ibuku mengurus produksi kuenya “
“
benarkah ? mau donk kue buatan ibu kamu…”
“
kalau kamu sudah ke Jepang kamu harus membeli semua kue ibuku…”
“
baik.. siapa takut ?”
Sementara
aku asyik bergurau dengan Yuki, tiba-tiba ada seseorang yang menghampiri kami.
Aku terkejut ternyata itu adalah Sora. Dia menghampiriku sambil tersenyum dan
menyapaku.
“ hallo,,
Miya apa kabar ?”
“ hai,, Sora
? kabar baik bagaimana denganmu ?”
“ aku
juga baik,,, ini siapa ?”
“ oh,,
kenalkan ini Yuki temanku..”
“
hallo,,, aku Yuki…”
“ senang
bertemu denganmu Yuki aku Sora…”
“ Sora ?
kamu sudah lama ya berteman dengan Miya ?”
“
belum juga kami baru saling kenal saat di rumah sakit beberapa minggu yang
lalu..”
“
oh,,,”
“
kamu kesini dengan siapa Sora ?”
“
aku bersama Fiko…”
“
oh,,, bagaimana dengan ibunya Fiko apakah sudah sembuh ?”
“
ibu Fiko sudah baikan sekarang..”
“
syukurlah kalau begitu”
“
Fiko tadi titip salam untukmu…”
“
Fiko dimana ?” (Yuki)
“
Fiko sebenarnya masih disini tapi dia enggan ikut bersamaku…”
“
kenapa ajak saja dia kesini..!!” (Yuki)
“
ah,,, sepertinya sudah sangat sore Sora aku harus segera pulang aku khawatir
nanti ibuku akan mencariku”
“
baiklah sampai ketemu lagi ya..”
“
iya Sora sampai jumpa…”
Aku
sungguh tidak sabar untuk ke Jepang aku ingin meninggalkan ini semua dan
membuat masa depan disana membuat aku menjadi orang yang sukses dan
membahagiakan ibu dan ayah, hal utama yang harus aku lakukan adalah itu. Sampai
di rumah aku segera kekamar mandi dan membersihkan diriku. Tidak ada hal yang
lain yang aku lakukan selain membaca buku Jepang dan belajar bericara dalam
bahasa Jepang.
2 tidak
terasa sudah berlalu begitu cepat aku lulus dengan predikta tertinggi. Iya aku
Miyako mendapat peringkat pertama di sekolahku sebagai peraih nilai ujian
tertinggi. Aku senang sekali ibu dan ayahku juga bangga padaku. Kini waktuku di
Indonesia semakin sedikit karena tidak kurang dari seminggu aku akan segera
berangkat ke Jepang. Senang dan susah bersamaan aku rasakan. Senang karena aku
akan segera bersekolah di Negara impianku dan sedih karena aku akan berpisah
dengan ibu dan ayahku dan tetu saja jau dari pengawasan mereka. Oh memang ya
menjadi orang yang sukses itu perlu adanya sedikit perjuangan. Apalagi sekarang
aku tidak tahu menahu bagaimana kelanjutan Fiko akankah dia masih bersikeras
untuk bersekolah ke Jepang seperti yang dikatakanya padaku ? ah,, entahlah itu
urusannya.
Saat aku
di wisudha dan mendapat penghargaan sebagai murid paling berprestasi aku sangat
senang dan bangga melihat ayah dan ibuku meneteskan air mata sambil tersenyum
padaku. Itu merupakan suatu kesuksesan yang bisa aku berikan pada orang tuaku
saat ini. Ayah ibu do’akan aku supaya bisa memberikan kesuksesan lagi pada
kalian. Pada saat itu secara tidak sengaja aku melihat Fiko tersenyum padaku
dan tentu saja aku segera mengindahkannya. Aku tidak ingin membalas senyumnya.
Lima hari
berlalu dan kini waktunya aku berangkat ke Jepang. Ayah dan ibu mengantarku ke
bandara mereka menangis sambil memelukku erat-erat. Berat memang menjalani
semua ini apalagi aku baru pertama kali berpisah dengan mereka orang yang
paling aku kasihi dan cintai. Aku naik pesawat dengan terus menangis. Bohong
kalau aku bisa menahan tangisku untuk tidak pecah karena ini semua sekali lagi
berat.
Tidak
sampai 7 jam aku naik pesawat aku pun sudah sampai di Jepang. Ha… negeri sakura
indah banget aku tidak sabar untuk segera belajar. Tidak salah memang aku
memilih Jepang sebagi tujuan. Aku tidak bisa menahan rasa senangku dan
melupakan semua rasa sedih. Aku berteriak meskipun banyak orang yang melihatku
tapi aku tidak peduli karena merekapun tidak ada yang mengenalku. Kringggg…
Selamat Penulis Yako… do’akan aku bisa menyusul
dan bersamamu
Tidak
bisa kupungkiri aku tertawa melihat pesan itu… tidak kusangka Fiko masih
menyimpan nomorku sementara aku telah menghapusnya. Apakah benar dia akan
menyusulku ? muncul sebuah harapan di benakku untuk bisa bertemu dengannya. Aku
akan memaafkannya jika dia datang langsung padaku. Aku menuju ke tempat
tinggalku yang baru. Sebuah rumah mungil dengan desain tradisional Jepang
tempatnya indah dekat dengan keramaian. Sungguh tempat ini aku sangat
menginginkannya sejak dulu. Aku tahu ibu dan ayah akan senang kalau mereka tahu
aku disini bahagia. Akan ku hubungi segera mereka supaya mereka juga ikut
merasakan kebahagiaan yang aku rasakan.
( Hallo,, ayah ! ini Miya ayah )
( Miya.. bagaimana keadaan kamu nak disana ?)
( Miya baik ayah.. bagaimana dengan ayah ?
ibu dimana ?)
( kami disini semuanya baik ibumu sedang
memasak di dapur )
( oh,, biarkanlah ayah aku tidak
inginmengganggu ibu memasak nanti masakkanya tidak enak lagi.. hahaha…)
( kamu bisa saja bagaimana
belajarnya ?)
( Miya baru akan mulai besok ayah
do’akan Miya ya supaya semuanya lancar)
( iya pasti ayah do’akan)
( Miya sayang ayah.. sampaikan
salam Miya buat ibu ya yah…)
( iya sayang,,,)
Keesokan
harinya aku bersiap-siap pergi ke sekolah baruku dan aku tidak sabar untuk
segera mengenal teman-teman baruku. Apakah aku mau berbicara dengan bahasa
Jepang atau Inggris ? aku rasa untuk permulaan Inggris akan lebih baik. Cukup
berjalan sekitar 10 menit aku sudah sampai di sekolahku besar dan bersih.
Itulah gambaran sekolahku di Jepang. Aku Miyako mahasiswi dari jurusan Sastra di
Universitas Shizukana Jepang.
“
hello,,, let me introduce myself. My name is Miyako. I am come from Indonesia.
I hope we can make a relathionship and sorry because my Japanesse language is
not good enough… you can teach me how to speak Japan well… thanks”
Bermula
dari perkenalan itu aku mempunyai banyak teman dan sedikit demi sedikit aku
mulai berbicara dalam bahasa Jepang. Haha… terdengar lucu memang seorang Miyako
dari Indonesia sekarang di Jepang dan berbicara dalam bahasa Jepang. Sudah lama
juga aku tinggal disini sudah 4 semester. Aku punya kebiasaan duduk di atas
gedung sekolah disana dilengkapai dengan fasilitas tempat duduk dan taman yang
indah itu memuatku betah berada disana. Entah siapa lagi yang suka berada
disitu selain aku. Saat inipun aku juga berada disini mendengarkan lagu dan
membaca buku tidak berbeda jauh dengan yang aku lakukan di Indonesia. Kringggg…
Yang lagi diatas mengalun merdunya lagu dan
ilmu dari sebuah buku… apakah buku yang pernah kamu janjikan padaku ?
Aku
bingung Fiko mengirimku pesan dan dia tahu aku sedang diatas. Dimana dia ? aku
menoleh kekanan dan kekiri tapi aku tidak menemuinya. Terus kucari-cari tapi
aku tidak juga menemukannya. Kringgg…
Apa yang sedang kamu cari ? apa kamu mencariku
?
aku tidak membalas pesan Fiko dan
aku terus menoleh kekanan dan kekiri. Terus mencari dan memaksaku untuk
beranjak dari tempat dudukku lalu aku berkeliling. Kringggg…
Kalau aku datang padamu apa kamu akan
memaafkanku ? aku dibelakangmu…
Aku menoleh kebelakang dan benar
saja itu memang Fiko. Aku menunduk dan tidak berani memandangnya.
“
hai,,, Penulis Yako aku datang dan menempati janjiku..”
“
Fiko apa yang kamu lakukan disini ?”
“
tentu saja aku sekolah. Kamu tidak pernah menyadarinya selama 2 tahun kita satu
sekolah dan aku terus bersamamu selama itu disini..”
“
tapi kenapa kamu tidak pernah menemuiku ?”
“
aku hanya menunggu waktu yang tepat “
“
bagaimana Sora ?”
“
baik… dia baik”
“
kamu pasti sudah menikah dengannya selamat ya Fiko. Maaf aku tidak bisa datang
“
“
iya aku tahu. Terima kasih.”
“
kamu benar-benar sudah menikah Fiko ?”
“
hahaha… kamu ini lucu sekali penulis Yako ? mana mungkin aku akan berpaling
dari satu orang ?”
“
iya Sora memang baik dimana dia sekarang ?”
“
dia di Amerika dan tepatnya dia telah menghianati aku..”
“
maksud kamu ?”
“
dia menikah dengan orang lain. Dia sama sepertiku kami tidak saling menyukai…
aku sudah mencoba untuk melupakanmu dan bersusaha sedikit demi sedikit untuk
melupakanmu tapi itu hanya sia-sia saja penulis Yako. Aku tidak bisa
melakukan itu “
“
oh,,, maaf yang tidak pernah memahamimu Fiko. Mungkin ini saatnya kita berpikir
lebih dewasa karena kita bukan anak SMA lagi. Oh iya kamu dari jurusan apa Fiko
?”
“
aku dari accounting.”
“
wah hebat,,,”
“
mana buku yang kamu janjikan padaku penulis Yako ?”
“
ini…”
Sejak itu
hubunganku dan Fiko kembali membaik. Aku tidak menyangka kalau dia memang
benar-benar setiap padaku dan ternyata pemikiranku tentangnya waktu itu salah.
Kami menjalin hubungan yang semakin dekat, memang kisah kami lucu berawal dari
ban moil yang bocor hingga kami bisa sampi ke negeri sakura Jepang.
Hal yang
dulu pernah aku impikan kini aku telah menggenggamnya. Kesuksesan yang aku
inginkan telah aku raih dan cinta yang tak pernah tercapai kini telah aku
dapat. Semua itu hanya perlu kesabaran dan tentu saja sedikit pengorbanan.
Ingatlah masa-masa SMA tidak pernah datng dua kali. Tapi bukan berarti kamu harus
menggunakan itu untuk hal-hal yang tidak pernah kamu temui seperti menjalin
sebuah hubungan karena sekolah bukan untuk itu sekolah itu untuk masa depan dan
kesuksesan juga untuk menggapai cinta itu sendiri.
HIDUP ITU
BUKAN HANYA UNTUK KITA SENDIRI TAPI JUGA ORANG YANG ADA DISEKITARMU
The end
Komentar
Posting Komentar